Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Diseminasi Riset FKUB Kenalkan Farmakogenetika untuk Pengobatan Hipertensi yang Lebih Personal

Penulis : Redaksi - Editor : Redaksi

11 - Aug - 2026, 14:52

Placeholder

JATIMTIMES – Tim Peneliti Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) bersama Manchester University menyelenggarakan diseminasi hasil penelitian bertajuk Development of Precision Medicine-Based Anti Hypertensive Therapy for Controlling Cardio Disease Risks in Rural Populations in Indonesia di Aula Kelurahan Kepanjen, Kabupaten Malang, Rabu (22/7). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan farmakogenetika sebagai pendekatan dalam personalisasi terapi antihipertensi kepada masyarakat.

Penelitian yang didukung International Science Partnerships Fund (ISPF) British Council tersebut mulai mengumpulkan data sejak Agustus 2024 dengan tujuan menghadirkan terapi antihipertensi yang lebih presisi bagi masyarakat pedesaan di Indonesia.

Baca Juga : Dorong Kebiasaan Sehat Sejak Remaja, MTsN 2 Kota Malang Perkuat Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut 

Kegiatan diseminasi diikuti oleh staf Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, perangkat desa, perawat dan bidan desa, enumerator ISPF, serta kader SMARThealth dari wilayah Sidorahayu, Karangduren, Kepanjen, dan Gondanglegi. Mereka merupakan pihak yang setiap hari berhadapan langsung dengan masyarakat sehingga memiliki peran dalam menjembatani inovasi kesehatan dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam sambutannya, perwakilan peneliti Farmasi FKUB, dr. Bayu Lestari, M.Biomed., Ph.D., menjelaskan bahwa pengobatan yang dipersonalisasi merupakan salah satu arah kebijakan strategis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Menurutnya, penelitian tersebut menjadi langkah awal untuk membawa konsep precision medicine lebih dekat dengan komunitas sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan di rumah sakit besar, tetapi juga oleh masyarakat desa.

Hipertensi hingga kini masih menjadi salah satu persoalan kesehatan terbesar di Indonesia. Penyakit yang dikenal sebagai silent killer ini sering berkembang tanpa gejala, tetapi meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, hingga gagal ginjal. Meskipun telah mendapatkan obat, tidak semua pasien menunjukkan hasil yang sama. Ada yang tekanan darahnya cepat terkendali, namun ada pula yang tetap tinggi meskipun rutin menjalani pengobatan.

Perbedaan respon terhadap obat inilah yang menjadi dasar pengembangan farmakogenetika. Setiap orang memiliki susunan gen yang berbeda sehingga dapat memengaruhi cara tubuh menyerap, mengolah, hingga merespons obat. Dengan demikian, obat yang efektif bagi seseorang belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain.

Apresiasi terhadap pelaksanaan penelitian disampaikan Pemerintah Kelurahan Kepanjen melalui staf kelurahan yang mewakili, Tri Wahyudi, S.M. Ia menilai penelitian tersebut merupakan bentuk kepedulian dunia akademik terhadap persoalan kesehatan masyarakat. Pada kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan penghargaan kepada kader kesehatan yang selama ini menjadi garda terdepan dalam mendampingi warga menjalani pengobatan dan menjaga pola hidup sehat.

Ketua Tim Kerja Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Restu Meida, S.Kep.Ners., mengungkapkan bahwa hampir setiap pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) selalu ditemukan warga dengan faktor risiko hipertensi yang tinggi. Menurutnya, tantangan pengendalian hipertensi tidak berhenti pada penemuan kasus karena masih terdapat masyarakat yang menghentikan konsumsi obat ketika merasa sehat. Oleh karena itu, edukasi yang berkelanjutan menjadi bagian penting dalam pengendalian hipertensi.

Pengalaman serupa juga ditemukan dalam program SMARThealth Extend yang sebelumnya dikembangkan FKUB bersama mitra internasional The George Institute for Global Health. Prof. Delvac Ocenady, Ph.D., dari Manchester University menjelaskan bahwa hipertensi merupakan penyakit yang paling sering dijumpai selama pelaksanaan program tersebut. Setelah persoalan kepatuhan mulai dipetakan, perhatian penelitian kini diarahkan pada kesesuaian obat dengan kondisi genetik pasien.

"Setiap orang bisa memiliki respons yang berbeda terhadap obat yang sama. Melalui farmakogenetika, kita ingin memahami perbedaan itu sehingga terapi menjadi lebih tepat sasaran," jelasnya.

Research Manager NIHR Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Sujarwoto, S.IP., M.Si., MPA., menilai kader kesehatan merupakan modal sosial yang sangat berharga. Oleh karena itu, setiap pelatihan menjadi investasi jangka panjang untuk memperkuat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.

Baca Juga : Heboh, Warganet Ini Pertanyakan Selisih Rp44 Triliun pada Iuran BPJS Kesehatan

Pada sesi materi, Dr. Bayu Lestari memaparkan farmakogenomik pada pasien hipertensi. Ia mengingatkan bahwa Jawa Timur masih berada di jajaran provinsi dengan jumlah kasus hipertensi yang tinggi. Masyarakat diimbau untuk menjaga gaya hidup sehat, rutin memeriksakan tekanan darah, serta tidak menghentikan pengobatan tanpa anjuran tenaga kesehatan.

Sesi berikutnya dipandu Dr. apt. Valentina Yurina, S.Si., M.Si. yang menjelaskan cara membaca hasil pemeriksaan farmakogenetika. Pelatihan ini ditujukan agar kader mampu membantu menjelaskan hasil pemeriksaan beserta rekomendasinya kepada masyarakat.

Bagi kader SMARThealth, kemampuan tersebut menjadi kompetensi tambahan setelah sebelumnya mendapatkan pelatihan mengenai skrining faktor risiko penyakit tidak menular, pemeriksaan gula darah, kolesterol, asam urat, pendampingan pasien berisiko tinggi, serta edukasi kesehatan.

Pelatihan berlangsung interaktif melalui kuis yang dipandu Prof. Sujarwoto. Lima kader, yaitu Alfin Andiwati, Wanti, Agustin Shintowati, Rizka Febri Saputri, dan Ninik Kartini, berhasil menjawab pertanyaan dan masing-masing memperoleh doorprize sebesar Rp100.000.

Kegiatan ditutup dengan simulasi pembacaan hasil tes farmakogenetika oleh Dr. Valentina Yurina dan apt. Rudy Salam, S.Farm., M.Biomed., Ph.D. Dua kader, Agustin Shintowati dari Kepanjen dan Alfin Andiwati dari Karangduren, kemudian mempraktikkan cara menjelaskan hasil pemeriksaan kepada pasien. Sebelum kegiatan berakhir, peserta juga memperoleh pembekalan mengenai Kuesioner Pemeriksaan Awal yang memuat riwayat kesehatan, gaya hidup, kondisi fisik, hingga kualitas hidup pasien sebagai alat bantu pendamping dalam edukasi kepada masyarakat.

Penulis : apt. Efta Triastuti, S.Si., M.Farm.Klin., Ph.D.


Topik

Pendidikan fakultas kedokteran universitas brawijaya FKUB



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Gresik Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Redaksi

Editor

Redaksi

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan