JATIMTIMES - Istilah dasarian belakangan menjadi trending dalam penelusuran Google setelah sering muncul dalam berbagai informasi prakiraan cuaca yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dalam laporan terbaru Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I Juli 2026, BMKG mengungkap sejumlah perkembangan, mulai dari El Nino yang masih aktif hingga potensi kekeringan meteorologis di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.
Berdasarkan analisis BMKG, hasil pemantauan pada Dasarian I Juli 2026 menunjukkan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada di angka -0,224 dengan indeks bulanan -0,387. Sementara itu, Sea Surface Temperature Anomaly (SSTA) di wilayah Nino 3.4 tercatat +1,88 secara dasarian dan +1,56 secara bulanan.
Baca Juga : SMAN 2 Kota Malang Dukung Gernas RANA, Perkuat Komitmen Ciptakan Sekolah Aman dan Nyaman
BMKG menyebut kondisi tersebut mengindikasikan fenomena El Nino masih aktif.
Apa Itu Dasarian?
Dalam istilah klimatologi, dasarian merupakan periode pengamatan selama 10 hari. Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian, yakni:
• Dasarian I: tanggal 1-10
• Dasarian II: tanggal 11-20
• Dasarian III: tanggal 21 hingga akhir bulan
Pembagian ini digunakan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca, curah hujan, hingga dinamika atmosfer secara lebih rinci dibandingkan analisis bulanan.
Jawa Timur Masuk Daftar Waspada Kekeringan
Selain memantau El Nino, BMKG juga merilis peringatan dini kekeringan meteorologis yang berlaku untuk Dasarian II Juli 2026.
Pada kategori Waspada, wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan meliputi sejumlah kabupaten/kota di:
• Bali
• DI Yogyakarta
• Gorontalo
• Jawa Barat
• Jawa Tengah
• Jawa Timur
• Kalimantan Selatan
• Kepulauan Bangka Belitung
• Maluku
• Nusa Tenggara Barat
• Nusa Tenggara Timur
• Papua Selatan
• Sulawesi Selatan
• Sulawesi Utara
Sementara pada kategori Siaga, BMKG mencantumkan:
• Bali
• Banten
• DI Yogyakarta
• Jawa Barat
• Jawa Tengah
• Jawa Timur
• Maluku
• Nusa Tenggara Barat
• Nusa Tenggara Timur
Adapun kategori Awas tidak berlaku untuk periode tersebut.
Sebaliknya, peringatan dini curah hujan tinggi pada Dasarian II Juli 2026 hanya berlaku pada kategori Waspada di beberapa kabupaten/kota di Papua Tengah. Tidak ada wilayah yang masuk kategori Siaga maupun Awas.
Sebagian Besar Indonesia Sudah Memasuki Musim Kemarau
Dalam analisis perkembangan musim, BMKG mencatat 60,5 persen wilayah Indonesia atau 423 Zona Musim (ZOM) kini telah memasuki musim kemarau.
Wilayah yang mengalami musim kemarau meliputi sebagian besar Pulau Jawa, termasuk hampir seluruh Jawa Timur, kemudian Bali, NTB, NTT, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, serta sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Curah Hujan Didominasi Kategori Rendah
BMKG mencatat distribusi curah hujan pada Dasarian I Juli 2026 didominasi kategori rendah.
Rinciannya meliputi:
• Curah hujan sangat tinggi: 0,05 persen
• Tinggi: 1,58 persen
• Menengah: 25,99 persen
• Rendah: 72,38 persen
Sementara berdasarkan sifat hujan:
• Jauh di atas normal: 8,78 persen
• Atas normal: 8,29 persen
• Normal: 12,86 persen
• Bawah normal: 70,08 persen
Baca Juga : Dinas Pendidikan Jatim Komitmen Ciptakan Lingkungan Sekolah Bebas Rokok, Guru Diminta Jadi Teladan
Data tersebut menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan yang lebih rendah dibanding kondisi normal.
Juli hingga Agustus Diprediksi Masih Minim Hujan
BMKG memprakirakan pada periode Juli Dasarian II hingga Agustus Dasarian I 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi curah hujan kategori rendah hingga menengah, yakni antara 0-150 mm per dasarian.
Wilayah yang diprediksi mengalami hujan kategori rendah atau kurang dari 50 mm per dasarian mencakup hampir seluruh Pulau Jawa, termasuk Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Kondisi serupa diperkirakan masih berlanjut pada Juli Dasarian III dan Agustus Dasarian I.
Agustus hingga Oktober Berpotensi Sangat Kering
BMKG juga merilis prediksi curah hujan bulanan kurang dari 50 mm per bulan hingga awal 2027.
Pada Agustus 2026, peluang curah hujan sangat rendah diperkirakan terjadi di:
• Pulau Jawa
• Bali
• NTB
• NTT
• Lampung
• Sumatera Selatan bagian selatan
• Sebagian Kalimantan
• Sebagian besar Sulawesi
• Maluku
• Sebagian Papua
Memasuki September 2026, wilayah dengan peluang hujan di bawah 50 mm semakin meluas, termasuk hampir seluruh Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua Selatan.
Sementara pada Oktober 2026, kondisi kering masih berpotensi terjadi di sebagian besar Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Tenggara, sebagian Kalimantan Selatan hingga Papua Selatan.
Sedangkan pada November 2026, potensi hujan sangat rendah mulai berkurang dan hanya diprakirakan terjadi di beberapa wilayah, termasuk sebagian Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, NTB, NTT, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah yang telah memasuki musim kemarau, agar lebih bijak menggunakan air, mewaspadai potensi kekeringan, serta terus memantau informasi cuaca dan iklim terbaru melalui kanal resmi BMKG.
