Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

4 Tradisi Umat Kristiani saat Kenaikan Yesus Kristus 2026, Ada Ibadah hingga Bakti Sosial

Penulis : Mutmainah J - Editor : Nurlayla Ratri

14 - May - 2026, 06:50

Placeholder
Ilustrasi kenaikan Yesus Kristus. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Umat Kristiani di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus pada Kamis, 14 Mei 2026. Momen suci ini juga ditetapkan sebagai hari libur nasional sehingga dimanfaatkan banyak keluarga untuk mengikuti ibadah hingga berkumpul bersama orang terdekat.

Hari Kenaikan Yesus Kristus diperingati 40 hari setelah perayaan Paskah. Peristiwa ini diyakini sebagai momen ketika Yesus Kristus naik ke surga setelah bangkit dari kematian. Bagi umat Kristiani, peringatan tersebut bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga menjadi pengingat akan janji Tuhan dan panggilan untuk hidup dalam kasih.

Baca Juga : Ramalan Zodiak 14 Mei 2026: Aries Boros, Taurus Panen Rezeki, Gemini Dapat Uang Tak Terduga

Dalam perayaannya, terdapat sejumlah tradisi yang umum dilakukan umat Kristiani untuk memaknai Hari Kenaikan Yesus Kristus. Tradisi ini sarat dengan nilai spiritual, refleksi iman, hingga kepedulian terhadap sesama.

1. Ibadah Khusus di Gereja

Tradisi yang paling umum dilakukan adalah mengikuti ibadah atau misa khusus di gereja. Pada momen ini, umat Kristiani diajak merenungkan makna kenaikan Yesus ke surga sebagai bagian dari rencana keselamatan Tuhan.

Biasanya, ibadah diisi dengan pembacaan Kitab Suci, puji-pujian, doa bersama, hingga khotbah yang menekankan tentang harapan, iman, dan janji kehadiran Roh Kudus. Suasana ibadah pun terasa lebih khidmat karena menjadi salah satu hari besar penting dalam kalender gereja.

2. Doa Bersama dan Persekutuan Jemaat

Selain mengikuti ibadah utama, banyak gereja juga mengadakan doa bersama maupun persekutuan jemaat. Kegiatan ini biasanya dilakukan untuk mempererat kebersamaan antarumat sekaligus memperdalam kehidupan rohani.

Dalam beberapa denominasi gereja, umat juga menjalankan novena Roh Kudus, yakni doa selama sembilan hari menjelang Hari Pentakosta. Tradisi ini menjadi simbol penantian atas turunnya Roh Kudus kepada para rasul sebagaimana yang dijanjikan Yesus Kristus.

3. Puasa dan Refleksi Diri

Sebagian umat Kristiani juga mengisi Hari Kenaikan Yesus Kristus dengan berpuasa dan melakukan refleksi diri. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk pengendalian diri sekaligus sarana mendekatkan diri kepada Tuhan.

Baca Juga : Hasil Rapat Gabungan DPRD: Ditemukan Kesalahan pada Surat Tugas Audiensi Wabup Malang-Wapres Gibran

Melalui perenungan pribadi, umat diajak untuk kembali mengevaluasi kehidupan, memperkuat iman, dan menjalani hidup sesuai ajaran kasih yang diajarkan Yesus Kristus.

4. Kegiatan Sosial dan Kebersamaan Keluarga

Hari Kenaikan Yesus Kristus juga menjadi momen untuk mempererat hubungan keluarga dan berbagi kasih kepada sesama. Banyak keluarga Kristen memanfaatkan hari libur ini untuk berkumpul, berdoa bersama, hingga menikmati kebersamaan di rumah.

Tak hanya itu, sejumlah gereja dan komunitas juga menggelar kegiatan sosial seperti bakti sosial, kunjungan kasih, hingga pembagian sembako kepada masyarakat yang membutuhkan. Tradisi ini menjadi wujud nyata dari ajaran kasih dan kepedulian terhadap sesama manusia.

Perayaan Hari Kenaikan Yesus Kristus bukan hanya menjadi momen peribadatan, tetapi juga kesempatan bagi umat Kristiani untuk memperkuat iman, menjaga kebersamaan, serta menebarkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.


Topik

Agama hari kenaikan yesus kristus



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Gresik Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Nurlayla Ratri