Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Ketika Dunia Islam Memimpin Revolusi Kertas dan Literasi Dunia

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

13 - Feb - 2026, 13:44

Placeholder
Sebelum eropa mengenal pabrik kertas, perpustakaan islam sudah menggunung (ist)

JATIMTIMES - Di saat Eropa masih berkutat pada perkamen dan papirus, dunia Islam sudah menjadikan kertas sebagai fondasi kebangkitan ilmu. Ketika pabrik kertas pertama di Fabriano, Italia berdiri pada 1276 dan disusul Nuremberg, Jerman pada 1390, peradaban Muslim telah lebih dahulu membangun ekosistem literasi yang matang, lengkap dengan perpustakaan besar dan tradisi intelektual yang hidup.

Perbedaan ritme itu bahkan tergambar dalam ungkapan populer pada masa tersebut: papirus Mesir bagi orang Barat ibarat kertas Samarkand bagi orang Timur. Sebuah sindiran halus tentang jurang pemanfaatan teknologi tulis-menulis antara dua peradaban.

Baca Juga : Hukum Memberi dan Menerima Cokelat Saat Valentine dalam Pandangan Islam, Bolehkah?

Di wilayah kekuasaan Islam, industri kertas tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama dorongan teologis dan kultural untuk mencari ilmu. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” Spirit ini menjelma menjadi gerakan kolektif membangun pusat-pusat pengetahuan.

Sekitar dua abad sebelum pabrik kertas hadir di Italia, Baghdad telah memiliki Bait al-Hikmah pada masa Sultan Harun al-Rasyid. Di sana tersimpan tidak kurang dari satu juta buku dalam bentuk kertas. Pada 891, seorang pengelana mencatat lebih dari 100 perpustakaan umum berdiri di kota tersebut. Bahkan Najaf yang lebih kecil memiliki rumah baca dengan koleksi sekitar 40 ribu buku.

Tradisi mengoleksi dan memproduksi buku juga melekat pada para penguasa dan ilmuwan. Sultan al-Hakim di Kordoba memiliki sekitar 400 ribu buku. Ilmuwan Persia Nashruddin al-Tusi yang lahir pada 1201 disebut mengoleksi jumlah yang sama. Sultan al-Aziz dari Dinasti Fatimiyyah bahkan mengumpulkan sekitar 1,6 juta buku, dengan 18 ribu di antaranya khusus membahas matematika dan filsafat.

Bandingkan dengan Charlemagne, penguasa besar bangsa Frank. Filsuf Prancis Roger Garaudy dalam karyanya Promesses de l'Islam menyebut tokoh itu hanya memiliki sekitar 900 buku, meski tetap dijuluki sebagai “Penguasa yang Pandai” oleh Eropa Kristen saat itu. Perbandingan ini menunjukkan betapa berbeda skala literasi yang berkembang di dua dunia.

Dukungan terhadap ilmu pengetahuan juga melahirkan iklim kosmopolit. Hedi Ben Aicha dalam The Journal of Library History menulis bahwa Spanyol dan Sisilia menjelma pusat peradaban karena keberpihakan penguasa Muslim terhadap sains dan kebudayaan. Kebijakan yang relatif toleran membuat banyak intelektual Kristen justru tertarik mendalami bahasa dan tradisi Arab.

Baca Juga : KH Fattah Yasin, Pejuang Bangsa Asli Kampung Kawatan Surabaya

Alvaro, seorang Kristen abad kesembilan di Andalusia, bahkan mencatat kegelisahannya. “Banyak rekanku sesama penganut agama membaca puisi dan kisah Arab, mempelajari ajaran Nabi Muhammad dan pemikir Muslim. Semua itu bukan untuk mengkritik, melainkan agar dapat mengekspresikan diri secara lebih elegan menurut budaya Arab. Lalu, di mana kini orang yang membaca teks Latin tentang kitab suci kita?” tulisnya.

Alquran sendiri membuka wahyu pertamanya dengan perintah yang tegas: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS Al-Alaq: 1). Perintah itu bukan sekadar ritual, melainkan fondasi epistemologis. Dari sana lahir peradaban yang menjadikan buku sebagai jantung kehidupan sosial.


Topik

Agama Eropa islam papirus peradaban kertas Muhammad



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Gresik Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya