Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Perjuangan dan Dilema RA Kartini: Menolak Poligami tapi Jadi Istri ke-4 Anak Patih Kabupaten Blitar

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

21 - Apr - 2024, 22:17

Placeholder
RA Kartini dan suaminya, Bupati Rembang Singgih Djojo Adiningrat.(Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Sosok RA Kartini telah melekat dalam sejarah sebagai lambang perjuangan kesetaraan gender. Namun, di balik sorotan yang mengagumkan, terdapat kisah pribadi yang menyedihkan, terutama ketika ia terjerat dalam jaringan poligami, sebuah praktik yang sebenarnya ditentangnya dengan tegas.

Sejak kecil, RA Kartini telah mengenal dengan baik dampak dan realitas dari poligami. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, tidak hanya memiliki satu istri, melainkan dua. Ibunya, MA Ngasirah, harus menerima kenyataan tersebut. Hal ini menjadi bayangan yang menghantui Kartini, bahkan ketika dia tumbuh dewasa.

Baca Juga : Peringati Hari Kartini , Pj Wali Kota Kediri Riding Vespa Bareng Puluhan Perempuan Komunitas Vespa Kediri

Pada masa itu, ayah Kartini akan menjabat sebagai bupati, sehingga diwajibkan menikahi seorang wanita bangsawan, Raden Ajeng Woerjan. Namun, Kartini menolak keras praktik poligami, menganggapnya merugikan kaum wanita dan melanggengkan ketidaksetaraan gender.

Meskipun begitu, ironisnya, Kartini harus merasakan penderitaan yang sama yang ia lawan. Gagalnya Kartini untuk melanjutkan pendidikan di Belanda dan keputusan ayahnya untuk menentangnya bersekolah di Batavia menjadi pukulan berat baginya. Bahkan, Kartini harus pingsan karena terkejut dan tak mampu menerima kenyataan tersebut.

Kartini kemudian terjebak dalam pilihan yang sulit: menikah dan menjadi istri keempat Bupati Rembang, Raden Adipati Djojo Adiningrat. Hal ini merupakan pukulan berat bagi Kartini, yang sebelumnya telah menuliskan surat-surat cinta kepada sahabatnya, mengekspresikan kekecewaannya terhadap takdir yang telah ditetapkan baginya.

Namun, apa yang jarang diketahui publik adalah asal usul suami Kartini, Bupati Singgih, yang berasal dari Blitar. Singgih adalah putra dari Patih Kabupaten Blitar, Raden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo, yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Blitar. 

Bersama-sama dengan Bupati Blitar saat itu, KPH Warsoekoesoemo, Djojodigdo berhasil mengubah wajah Blitar dengan proyek-proyek infrastruktur yang monumental. Bupati Singgih, putra dari Patih Kabupaten Blitar, Raden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo, dilahirkan pada 2 Maret 1854 di rumah keluarga di Blitar. 

Bangunan tempat kelahirannya masih berdiri kokoh di Jalan Melati Kota Blitar, dengan arsitektur Jawa klasik yang memancarkan keanggunan bangsawan. Hari ini, rumah tersebut menjadi tujuan wisata bagi para pecinta sejarah yang ingin mengikuti jejak Kartini di Blitar.

Seorang sejarawan Blitar, Ferry Riyandika, menjelaskan bahwa Bupati Singgih, yang juga dikenal sebagai Raden Mas Arja Adipati Singgih Djojo Adhiningrat, adalah putra ketiga dari Patih Djojodigdo. Patih tersebut mendampingi Kanjeng Adipati Haryo Warsokusumo dalam memimpin Kabupaten Blitar dari tahun 1877 hingga 1896 Masehi. Pesanggrahan Djojodigdo, tempat kelahiran Bupati Singgih, tetap berdiri kokoh di jantung Kota Blitar hingga hari ini, menjadi saksi bisu dari sejarah gemilang Blitar.

“Kepala daerah Rembang yang memiliki nama lain Raden Mas Arja Adipati Singgih Djojo Adhiningrat adalah putra ketiga dari Raden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo, patih yang mendampingi Kanjeng Adipati Haryo Warsokusumo memimpin Kabupaten Blitar tahun 1877-1896 Masehi. Hingga sekarang tempat asal Bupati Rembang masih berdiri kokoh dan terawat di sekitar jantung Kota Blitar, tempat itu bernama Pesanggrahan Djojodigdo,” ungkap Sejarawan Blitar, Ferry Riyandika kepada JATIMTIMES.

Mertua Kartini, Patih Djojodigdo, bukanlah sosok yang bisa dianggap sebelah mata. Hingga saat ini, namanya masih mengalun di benak warga Blitar, bukan hanya karena legenda kesaktiannya dalam ilmu pancasona, tetapi juga karena warisannya yang luar biasa dalam pembangunan Blitar.

Bersama Bupati kedua Blitar, KPH Warsoekoesoemo, Djojodigdo menorehkan sejarah dengan meletakkan fondasi pembangunan infrastruktur di Blitar. Jembatan, jalan protokol, dan bangunan-bangunan kolonial adalah beberapa dari banyak hasil karyanya yang masih bisa dinikmati oleh generasi saat ini. Sebagai Patih, jabatannya pada waktu itu merupakan yang tertinggi di bawah bupati.

Djojodigdo, seorang bangsawan keturunan Keraton Mataram, memiliki kecerdasan yang luar biasa dan keahlian dalam ilmu bela diri. Sepak terjangnya memberikan pengaruh positif bagi perkembangan Blitar, terutama setelah skandal korupsi besar di era pemerintahan Ronggo Hadi Negoro. 

Kerjasama harmonisnya dengan Bupati Warsoekoesoemo tidak hanya berhasil menghubungkan dengan pemerintah kolonial Belanda, tetapi juga menjadi pendorong kebijakan-kebijakan untuk kemajuan pembangunan Blitar.

Tidak hanya sebagai penghubung dengan penguasa kolonial, Djojodigdo juga menjadi motor pengambilan keputusan yang memajukan pembangunan Blitar. Pencapaian terbesarnya adalah pembangunan Stasiun Kereta Api Blitar, sebuah proyek strategis yang diresmikan pada 16 Juni 1884 saat dia menjabat sebagai patih.

“Djojodigdo adalah sosok yang memahami kondisi saat itu. Dia menyadari pentingnya kolaborasi dengan Belanda untuk membangun kembali peradaban yang hampir roboh pasca-Perang Diponegoro. Dalam visinya, membangun masa depan yang lebih baik adalah prioritas, bahkan jika itu berarti berkolaborasi dengan mantan musuh,” terang Herry Setyabudi, pendiri Blitar Heritage.

Sayangnya, kehidupan Kartini berakhir pada usia yang sangat muda, hanya 25 tahun, setelah melahirkan seorang anak laki-laki. Namun, warisannya tetap hidup berkat sahabatnya, Mr. JH Abendanon, yang mengumpulkan surat-surat Kartini.

Mr. JH Abendanon kemudian menerbitkan surat-surat tersebut dalam buku berjudul "Door Duisternis tot Licht", yang pertama kali terbit pada tahun 1911. Pada tahun 1922, buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang" oleh Balai Pustaka. Selanjutnya, buku "Door Duisternis tot Licht" diterjemahkan oleh Agnes Louise Symmers menjadi "Letters of a Javanese Princess".

Baca Juga : Hari Kartini, Ini 6 Fakta RA Kartini yang Jarang Diketahui Kaum Milenial

Dalam surat-suratnya, Kartini mengungkapkan perasaannya tentang cinta dengan kata-kata yang menggugah: 

"Cinta! Apa yang kita ketahui tentang cinta? Bagaimana kita dapat mencintai seorang pria yang tak pernah kita kenal sebelumnya? Bagaimana pria itu dapat mencintai kita? Tentu saja mustahil. Perempuan dan laki-laki muda dipisahkan, dan tak pernah diijinkan untuk berjumpa." (Jepara - 25 Mei 1899)

"Bagaimana mungkin seorang pria dan wanita dapat mencintai satu dengan yang lain ketika mereka baru berjumpa pertama kali dalam kehidupan ini setelah mereka terikat dalam pernikahan?" (Jepara - 6 November 1899)

"Saya tak akan pernah, tak akan pernah jatuh cinta. Mencintai, pertama-tama membutuhkan rasa hormat, menurut hemat saya; dan saya tidak dapat menghormati pemuda Jawa muda. Bagaimana saya bisa menghormati seseorang yang telah menikah dan menjadi seorang ayah, dan yang telah memiliki istri yang melahirkan anak-anaknya, membawa perempuan lain ke dalam rumahnya?" (Jepara - 6 November 1899)

"Tiada hal yang lebih indah selain dapat menerbitkan senyum di wajah mereka yang kita cinta." (November 1899)

"Terlalu sering kami merasakan bahwa kami, orang Jawa, bukanlah manusia sama sekali. Bagaimana mungkin orang-orang Belanda berharap untuk dicintai orang-orang Jawa, ketika mereka memperlakukan kami seperti ini? Cinta melahirkan cinta, tetapi hinaan tak akan pernah menimbulkan kasih sayang." (23 Agustus 1900)

"Kita berharap untuk dicintai - bukan ditakuti." (17 Agustus 1902)

"Cinta adalah ikatan yang menyatukan kita." (17 Agustus 1902)

Dalam kata-kata ini, Kartini mencerminkan perjuangannya untuk cinta yang sesungguhnya, sebuah ikatan yang melampaui batas-batas budaya dan sosial. Dalam kisah yang penuh ironi ini, RA Kartini terjebak di antara idealismenya yang menentang poligami dan takdir yang dipilihkan untuknya oleh lingkungannya. 

Sebagai seorang perempuan yang gigih memperjuangkan kesetaraan gender dan menolak praktik poligami yang merugikan wanita, Kartini terpaksa terjerumus dalam jaringan pernikahan yang sama yang ia lawan. Meskipun demikian, melalui surat-suratnya yang penuh semangat dan kecerdasan, Kartini terus memancarkan cahaya harapan bagi kaum perempuan di masa depan.

Meskipun hidupnya dipenuhi dengan cobaan dan pengorbanan, kisah perjuangan Kartini tidak pernah pudar dalam ingatan banyak orang. Sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan gender dan penindasan, Kartini terus dihormati sebagai pahlawan nasional Indonesia yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Warisannya bukan hanya dalam bentuk ide dan gagasan, tetapi juga dalam semangat perjuangan yang terus berkobar di hati setiap individu yang menghargai kesetaraan dan keadilan.

Kartini mengajarkan kita tentang pentingnya mempertahankan keyakinan dan prinsip dalam menghadapi rintangan hidup. Meskipun lingkungan sekitarnya mungkin menentangnya, Kartini tetap teguh pada nilai-nilai yang diyakininya. Dengan keteguhan hati dan semangat yang tak pernah padam, ia menantang norma-norma sosial yang mengekang dan melawan sistem yang tidak adil.

Seiring dengan berlalunya waktu, kisah perjuangan Kartini terus memberi inspirasi bagi banyak orang, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Melalui karyanya yang berharga dan semangatnya yang membara, Kartini telah mengukir nama dan warisan yang abadi dalam sejarah perjuangan hak asasi manusia.


Topik

Serba Serbi ra kartini hari kartini poligami tulisan cinta kartini



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Gresik Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi