Sunan Kudus di Panggung Paseban: Ramadayapati dari Demak

Reporter

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy

17 - Jul - 2025, 07:26

Lukisan kanvas bergaya realis ini menggambarkan Sunan Kudus, tokoh Wali Songo abad ke-15 yang dikenal sebagai penyebar Islam penuh toleransi. (Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pada hari Senin yang cerah di pelataran Keraton Demak, panggung paseban agung memancarkan aura kebesaran sebuah negara Islam yang baru bertunas di jantung Pulau Jawa. Sosok-sosok terhormat telah memenuhi pendapa kerajaan: para pandita, niyaka, punggawa, mantri, dan putra sentana kasultanan.

Semua bersiap menyambut kedatangan utusan agung dari medan diplomasi—seorang wali yang disanjung tak hanya karena ketinggian ilmu dan ibadah, tetapi juga karena keberhasilannya menjalankan misi sulit: Sunan Kudus.

Baca Juga : Mengenal Hari Keadilan Internasional 17 Juli: Dari Nuremberg ke ICC, demi Dunia yang Lebih Adil

Sejarah mencatat hari itu sebagai hari ketika simbol-simbol spiritual dan kekuasaan politik berpadu dalam satu narasi peradaban. Dalam satu bagian tembang Sinom yang mengawali kidung itu, suasana terlukis dengan kata: Angantya ing dina Soma—telah tiba mereka yang hendak seba ke Kasultanan Demak. Sebuah isyarat akan kedatangan duta ulung.

Sunan Kudus dan Narasi Hanoman: Ramadayapati dari Demak

Dalam diskursus lisan maupun teks, para hadirin membicarakan prestasi Jeng Sunan Kudus dalam menyelesaikan perkara Pengging. Ia tidak semata dianggap sebagai eksekutor perintah sultan, melainkan dipandang sebagai manifestasi dari Ramadayapati—tokoh dalam epos Ramayana yang menjadi duta Prabu Sri Ramawijaya ke Negeri Alengka.

Paralel antara Sunan Kudus dan Hanoman bukan sekadar alegori, melainkan refleksi atas spiritualitas Jawa yang mengintegrasikan mitos dan sejarah. Sebagaimana Hanoman yang berhasil membawa kembali Dewi Sinta dari cengkeraman Prabu Rahwana, demikian pula Sunan Kudus dianggap telah membawa amanat dari Sultan Trenggana kepada Ki Ageng Pengging. Namun, hasilnya tidak persis sama.

Politik Dakwah dan Ketegangan Pengging

Ki Ageng Pengging, tokoh utama di wilayah selatan Demak, bukan sembarang ulama atau pemimpin lokal. Ia adalah figur karismatik yang memadukan ajaran Islam tasawuf dengan sikap politis yang kritis terhadap otoritas pusat. Ia tidak serta merta menolak perintah Sultan Demak, namun juga tidak bersedia tunduk pada struktur kekuasaan yang tidak ia akui sebagai sah. Bagi Ki Ageng Pengging, bumi Pengging adalah warisan spiritual dan historis yang tidak bisa digadaikan begitu saja.

Penolakan halus Ki Ageng Pengging—"tidak memilih namun juga tidak menolak"—mencerminkan strategi kultural khas elite lokal Jawa pasca-Majapahit: sebuah ambiguitas politis yang sarat makna. Ia seolah berkata, "Aku tak akan menentang Demak, tapi juga tidak akan menjadi abdinya."

Dalam laporan Sunan Kudus kepada Sultan Trenggana, penegasan ini disampaikan dengan penuh kebijaksanaan. Ia tidak menuduh, tidak pula memaksakan penilaian. "Kami telah menyampaikan seluruh perintah Jeng Sultan kepada Kyai Kebo Kenanga," ujar beliau, "namun Kyai Gede Pengging tetap pada pendiriannya."

Paseban Agung dan Ritus Kekuasaan

Paseban agung yang digelar Sultan Trenggana hari itu bukan sekadar forum administrasi kekuasaan. Ia adalah panggung ritual politik yang memperlihatkan bagaimana Kasultanan Demak mengonstruksi kewibawaannya di hadapan publik. Sultan duduk di singgasana; para wali agung dan ulama mendampingi; patih Wanasalam, niyaka, bupati, panewu, dan prajurit tersusun dalam tata posisi yang mencerminkan hierarki kekuasaan dan penghormatan.

Ketika Sunan Kudus memasuki paseban, ia disambut dengan penuh penghormatan. Dalam satu narasi kidung disebut: Ananging sanget lenggana, tan arsa nampik milih—demikian lemah-lembutnya, tak hendak menolak atau memilih. Sebuah metafora dari kearifan diplomasi Sunan Kudus yang menempatkan dirinya bukan sebagai hakim, melainkan jembatan antara pusat dan pinggiran.

Ideologi dan Dendam Sejarah

Penolakan Ki Ageng Pengging tidak dapat dilepaskan dari warisan politik pasca keruntuhan Majapahit. Pengging adalah bagian dari jaringan elite lokal yang dahulu merupakan perpanjangan tangan kerajaan Hindu-Buddha. Dalam masa transisi menuju Islam, wilayah seperti Pengging menjadi ruang kontestasi ideologis antara Islam sufistik yang bersifat lokal dan Islam politik yang diwakili oleh Demak.

Kasultanan Demak sendiri bukan sekadar entitas religius, tetapi proyek negara-bangsa awal yang ingin menyatukan Jawa di bawah panji Islam. Dalam konteks ini, Sunan Kudus berperan sebagai perantara antara visi negara Islam Demak dengan lokalitas-lokalitas spiritual seperti Pengging. Namun ketika penolakan datang, kita melihat sebuah gesekan laten: bukan hanya soal loyalitas politik, melainkan juga persoalan legitimasi spiritual.

Apakah Kasultanan Demak benar-benar pewaris spiritualitas Jawa? Atau justru hanya wajah baru dari kekuasaan yang lama?

Karakter Sunan Kudus: Duta Ulung dan Wali Polymath

Menurut sumber versi Cirebon (Sulendraningrat, Sejarah Hidup Wali Songo, 1988), Sunan Kudus — yang bernama asli Ja’far Shadiq — adalah putra Sunan Ngudung (Usman Haji), seorang ulama keturunan Timur Tengah, cucu dari Raja Pandhita (Ali Murtadho), kakak Sunan Ampel. Usman Haji menikah dengan Syarifah, cucu Sunan Ampel, sehingga Ja’far Shadiq masuk dalam jejaring kekeluargaan elite ulama Wali Songo yang memiliki pengaruh kuat di pusat kekuasaan Demak.

Salah satu versi silsilah menyebut Ja’far Shadiq sebagai keturunan langsung Rasulullah melalui jalur Sayyidina Husein hingga Syaikh Jumadil Kubro dan Ibrahim Asmarakandi. Meskipun terdapat variasi dalam narasi genealogi, seluruh versi berpaut pada arus besar spiritualitas Islam klasik yang bersilangan dengan dinamika kekuasaan lokal pasca-Majapahit.

Kedekatan Sunan Kudus dengan lingkungan istana terlihat dari pernikahannya dengan putri Raden Kusen Adipati Terung, serta kedudukannya sebagai imam kelima Masjid Demak setelah sang ayah. Ia juga menikah dengan Dewi Rukhil, putri Sunan Bonang, memperkuat aliansi keulamaan. Dari pernikahan ini lahir Amir Hasan, tokoh penting dalam kesinambungan dakwah Islam di pesisir utara Jawa.

Peta kekuasaan Sunan Kudus dibangun tidak hanya dari nasab suci, tetapi juga dari kecakapan diplomasi spiritual, simbolik, dan politik. Ia bukan hanya ulama, tapi juga penjaga ortodoksi, penyusun hukum, dan pemegang otoritas ideologis dalam struktur kerajaan Islam Jawa awal. Dalam konteks historiografi kritis, kehadirannya mencerminkan bagaimana dendam sejarah, warisan spiritualitas Syiah-Sunni, dan genealogi Arab-Jawa dipadukan menjadi fondasi legitimasi elite ulama di tengah runtuhnya hegemoni Majapahit.

Sunan Kudus dikenal bukan hanya sebagai juru dakwah, tetapi juga sebagai pemikir, orator, dan administrator ulung. Ia menguasai berbagai cabang ilmu agama dan pengetahuan umum. Sosoknya digambarkan dalam kidung sebagai seseorang yang "keras ibadahnya, budi bahasanya menawan hati, bijaksana dan rupawan."

Gelar "Jeng" yang disematkan kepadanya menunjukkan posisi kehormatan tinggi dalam struktur wali. Ia tidak hanya menjadi pemimpin keagamaan, tetapi juga arsitek budaya dan politik yang menyulam simbol-simbol lama dengan makna-makna baru dalam bingkai Islam.

Simbolisme Hanoman dan Politik Kebudayaan

Baca Juga : Dari Dunia Tari, Model dan Makeup ke Sekolah Rakyat: Transformasi Rizki Izzah yang Menginspirasi

Perumpamaan Sunan Kudus sebagai Hanoman adalah bagian dari politik kebudayaan Islam Jawa awal. Dalam masyarakat yang masih kuat berakar pada tradisi wayang dan mitologi Hindu, perbandingan antara tokoh wali dan tokoh pewayangan menjadi strategi efektif untuk menjembatani ajaran baru dengan imajinasi lama.

Ramadayapati, atau Hanoman, adalah simbol kesetiaan, keberanian, dan kecerdasan. Dengan menyamakan Sunan Kudus dengannya, para penyair Jawa memberikan legitimasi simbolik atas tindakan-tindakan diplomatik yang dijalankan oleh Sunan Kudus.

Namun, justru karena Sunan Kudus diposisikan sebagai Hanoman, maka kegagalannya meyakinkan Ki Ageng Pengging juga menjadi simbol kegagalan kosmik: seolah Rahwana tidak berhasil ditundukkan.

Warisan Paseban dan Jalan Tengah Islam Jawa

Peristiwa di paseban agung Kasultanan Demak bukanlah sekadar catatan diplomasi, melainkan refleksi dari dinamika Islamisasi di Jawa. Sunan Kudus hadir sebagai figur transformatif, tetapi sekaligus terbentur oleh batas-batas ideologis yang tak bisa ditembus dengan logika kekuasaan semata.

Dalam konteks inilah, kidung Sinom menjadi sumber historis yang menyimpan lebih dari sekadar pujian. Ia adalah catatan subtil atas ketegangan antara pusat dan pinggiran, antara kekuasaan dan spiritualitas, antara ideologi dan warisan sejarah.

Sunan Kudus tetap dikenang bukan karena kemenangannya, tetapi karena cara ia membawa diri di tengah pusaran konflik. Ia adalah Ramadayapati dari Demak—duta yang tak hanya mengabarkan, tetapi juga meneladankan.

Dan di dalam ingatan budaya Jawa, mungkin itulah kemenangan yang sejati.

Sang Penjaga Pintu Muksa: Ki Ageng Pengging dan Duta dari Kudus

Dalam peta awal sejarah Islam Jawa, Ki Ageng Pengging—atau Raden Kebo Kenanga—muncul sebagai sosok asketik yang menandai jalur spiritualitas lokal, kerap memilih berdiri di luar hegemoni kekuasaan formal. Kisah pertemuannya dengan Sunan Kudus, yang terekam dalam Kidung Dandanggula bait ke-1 hingga ke-18, bukan sekadar menggambarkan dialog antara dua tokoh besar, melainkan juga membuka tabir ketegangan mendalam antara otoritas politik Kesultanan Demak dan otoritas moral-spiritual para resi setempat. Di akhir tulisan ini, kita akan melihat bagaimana Sunan Kudus menuntaskan perkara Pengging tersebut—sebuah kisah yang kemudian menjelma legenda.

Ki Ageng Pengging, yang kala itu menetap di dukuh Pengging, telah lama dikenal sebagai seorang sufi yang menempuh jalan tafakur dan pengasingan. Dikisahkan, ia telah berminggu-minggu berdiam dalam kobong—sejenis ruang suci dalam dalemnya—menyepi dari dunia luar, melupakan makan dan tidur, dan sepenuhnya mengarahkan kesadaran batinnya kepada Hyang Tunggal. Tekadnya telah bulat: muksa, lebur dalam keabadian.

Sementara itu, dari pusat kekuasaan Islam awal di Demak, Sunan Kudus diutus oleh Sultan Trenggana sebagai duta nerpati, membawa perintah agar Ki Ageng Pengging hadir di paseban. Penolakan Ki Ageng Pengging atas panggilan ini bukan semata-mata pembangkangan politik, melainkan bentuk ketaatan tertinggi pada hakikat ilahiah yang ia anut—bahwa ia bukan abdi ratu, melainkan kawula Gusti.

Ketika Sunan Kudus tiba di rumah janda Bok Wujil di timur pagar bata, ia mendapat kabar bahwa Ki Ageng Pengging telah mengunci diri pasca kunjungan utusan Demak sebelumnya. Dengan penuh kehati-hatian, ia memerintahkan tujuh sahabatnya untuk menanti di luar. Sunan Kudus sendiri masuk ke dalam pura dan memohon izin bertemu dengan Ki Ageng Pengging. Ia menyebut dirinya sebagai duta Hyang Widi, disertai Jabarail—simbol wahyu atau mandat ilahiah.

Pertemuan pun berlangsung dalam suasana sakral. Ki Ageng Pengging yang terbaring karena sakit, menyambut Sunan Kudus dengan salam, dan menyilakannya duduk dalam kelambu kantil. Setelah beberapa percakapan pembuka yang sopan, percakapan memuncak ketika Sunan Kudus menyampaikan maksud kedatangannya: menyampaikan perintah Sultan Demak agar Ki Ageng Pengging datang ke istana.

Penolakan Ki Ageng Pengging disampaikan dengan bahasa lembut namun penuh prinsip. Ia menyatakan bahwa sejak awal ia tidak pernah mengabdi pada ratu. "Asalku ini dari Gusti," katanya, menegaskan bahwa dirinya bukan bagian dari sistem kekuasaan duniawi. Baginya, kawula dan Gusti tidak berbeda, karena semua berasal dan akan kembali kepada Yang Satu.

Tanggapan keras datang dari Sunan Kudus. Ia menuduh Ki Ageng Pengging menyimpan rahasia dan keliru dalam memahami ilmu. Namun Ki Ageng Pengging menjawab dengan perumpamaan mendalam tentang arah—luar dan dalam, atas dan bawah, depan dan belakang—semuanya fana, semuanya ilusi. "Bagiku tidak ada pilihan jadi pemiliknya," ujarnya, sebuah pernyataan yang mencerminkan puncak pencerahan sufistik.

Dalam konteks itu, Sunan Kudus mengajukan tantangan spiritual: membuktikan kemampuan "mati di dalam hidup". Ki Ageng Pengging menerima tanpa gentar. Ia meminta Sunan Kudus membelek kulit sikunya—sebuah simbolisme pengorbanan tertinggi dan penyerahan mutlak. Dengan hunusan seking, Sunan Kudus membuka kulit siku Ki Ageng Pengging, dan seketika itu pula, ia wafat di tempat. Muksa telah tercapai.

Peristiwa ini mencerminkan pertarungan halus namun tegas antara dua ideologi besar yang mewarnai awal Islamisasi Jawa: Islam politik yang terlembaga dalam struktur kekuasaan Demak, dan Islam mistik yang membumi dalam spiritualitas rakyat. Sunan Kudus, meski wali besar, dalam konteks ini tampil sebagai representasi otoritas negara yang hendak menertibkan simpul-simpul perlawanan simbolik. Sementara Ki Ageng Pengging berdiri sebagai benteng terakhir dari hakikat kebebasan ruhani yang tak bisa ditundukkan oleh struktur duniawi.

Kematian Ki Ageng Pengging bukanlah akhir, melainkan puncak pengabdian spiritual. Ia menolak tunduk tanpa permusuhan, ia wafat bukan karena kalah, melainkan karena selesai. Dalam perspektif historiografi Islam Jawa, kisah ini memberi cahaya pada bagaimana Islam berkembang tidak linier, tetapi melalui dialog, konflik batin, dan pertarungan antara pengetahuan ilahi dan otoritas manusia.

Sunan Kudus meninggalkan kobong tempat Ki Ageng Pengging wafat dalam diam. Para sahabat yang menunggu di luar mendengar suara salam, namun tidak tahu bahwa suara itu bukan dari yang hidup. Dalam sunyi itu, sang penjaga pintu muksa telah melampaui dunia, sementara duta dari Kudus kembali membawa kehampaan: tugasnya selesai, namun jawabannya bukan seperti yang dikehendaki istana.

Kisah ini, lebih dari sekadar pertemuan dua tokoh, adalah refleksi dari zaman yang sedang bergerak—antara dunia lama yang arif dan dunia baru yang teratur. Antara kebebasan batin dan kepatuhan lahir. Dan di antara keduanya, terdapat satu nama: Ki Ageng Pengging, sang penjaga pintu muksa, yang memilih sunyi sebagai jawaban paling lantang terhadap kekuasaan.