Jaga Daya Beli Warga Saat Puasa, Pemkot Malang Perbanyak Gerakan Pangan Murah saat Ramadan

Reporter

Riski Wijaya

14 - Feb - 2026, 07:16

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat.(Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Upaya mengendalikan lonjakan harga jelang Ramadan mulai digas Pemkot Malang. Salah satu jurusnya, menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM) hingga 20 kali selama bulan puasa, menyasar lima kecamatan di Kota Malang.

Bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Wali Kota Malang Wahyu Hidayat memastikan intervensi harga bahan pokok akan diperkuat menjelang Ramadan hingga mendekati Idulfitri.

Baca Juga : Tujuh Dapur MBG di Kota Malang Kena Tegur, Pemkot Tegaskan Wajib Ikuti HET Bapanas

“Jadi kita antisipasi sebelum Ramadan, termasuk H-3 sebelum Idulfitri, agar harga bahan pokok ini dapat terkendali. Gerakan Pangan Murah ini kita lakukan merata di lima kecamatan,” tegasnya.

Menurut Wahyu, kenaikan harga menjelang Ramadan merupakan pola musiman yang terjadi hampir setiap tahun. Meski demikian, ia menilai lonjakan kali ini masih dalam batas wajar.

“Memang ada kenaikan yang signifikan, tapi tidak terlalu drastis. Ini juga terjadi di banyak daerah, bukan hanya di Kota Malang,” ujarnya.

Selain faktor musiman, meningkatnya aktivitas ekonomi ikut memicu naiknya permintaan. Kembalinya mahasiswa ke Kota Malang usai masa libur turut mendongkrak konsumsi sejumlah komoditas pangan.

Karena itu, Pemkot Malang tak ingin tinggal diam. Dalam waktu dekat, Wahyu akan menggelar rapat bersama TPID untuk memetakan komoditas mana yang perlu mendapat intervensi lebih lanjut.

“Kita akan beri rekomendasi, harga bahan pokok mana yang harus kita intervensi,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, menyebut ada sedikitnya 10 komoditas yang dijual dalam GPM. Mulai dari beras, gula, minyak goreng premium, Minyakita, telur ayam, daging ayam, daging sapi, cabai rawit, cabai besar, bawang merah hingga bawang putih.

Baca Juga : Kenapa Imlek Sering Turun Hujan di Indonesia? Ini Penjelasan Ilmiah dan Makna di Baliknya

“Selisih harganya Rp 2 ribu sampai Rp 10 ribu dibandingkan harga pasar,” jelas Slamet.

Intervensi harga itu langsung dirasakan manfaatnya oleh warga. Lustia, warga Bumiayu, mengaku terbantu karena bisa membeli telur seharga Rp 28 ribu per kilogram, lebih murah dibanding harga pasar yang mencapai Rp 29 ribu hingga Rp 30 ribu. “Lumayan membantu, lebih ringan,” ujarnya.

Ia juga membeli Minyakita yang di pasaran mulai sulit ditemukan dan harganya cenderung lebih tinggi. Informasi GPM ia dapatkan dari grup RT di lingkungannya.

“Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan, karena lebih murah dan membantu warga,” pungkasnya.