JATIMTIMES - Minyak jelantah yang selama ini identik dengan limbah rumah tangga diubah menjadi peluang bernilai ekonomi oleh dosen STIE IBMT yang terdiri dari Rini Novianti, SKM, SE, MM,(ketua), Eny Sulistyowati, SE, MM, dan Elda Yulia Ryandini, MPd, dibantu mahasiswa Hidayatus Shobichah dan Sultan Rasya Naga Gibran. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, sebanyak 10 anggota Karang Taruna Wonokusumo Jaya, Kota Surabaya, diajak mengenal konsep green economy sekaligus mempraktikkan pengolahan minyak jelantah menjadi sabun batang.
Program yang berlangsung secara bertahap sejak April hingga Agustus 2026 di Balai RT 07 RW 07 Wonokusumo Jaya itu tak hanya berfokus pada persoalan lingkungan. Peserta juga dibekali keterampilan Bahasa Inggris melalui pembuatan komik digital menggunakan makebeliefscomix.
Baca Juga : Profil Neeltje Deliana, Pembawa Baki Penurunan Bendera HUT ke-81 RI
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat STIE IBMT, Rini Novianti, SKM, SE, MM, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar masyarakat mampu melihat limbah dari sudut pandang berbeda.
"Melalui kegiatan ini kami ingin mengenalkan kepada masyarakat bahwa minyak jelantah tidak selalu harus menjadi limbah yang dibuang. Dengan pengolahan yang tepat, minyak jelantah dapat dimanfaatkan menjadi produk seperti sabun yang memiliki nilai ekonomi," kata Rini.
Menurut Rini, pengolahan minyak jelantah menjadi sabun menjadi bagian dari upaya memperkenalkan penerapan green economy secara sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Selain membantu mengurangi limbah rumah tangga, keterampilan tersebut diharapkan dapat membuka ide usaha baru.
"Kami tidak hanya fokus pada pengolahan limbah, tetapi juga ingin mendorong anggota Karang Taruna untuk memanfaatkan teknologi digital secara lebih produktif. Karena itu, kami kombinasikan dengan pelatihan Bahasa Inggris melalui pembuatan komik digital menggunakan makebeliefscomix," beber Rini.
Dalam pelaksanaannya, peserta terlebih dahulu mendapatkan sosialisasi mengenai green economy, dampak pembuangan minyak jelantah serta potensi pengolahan limbah menjadi produk kreatif bernilai ekonomi.
Peserta kemudian mengikuti praktik pembuatan sabun. Minyak jelantah yang telah disaring dicampurkan dengan minyak kelapa dan larutan NaOH melalui tahapan yang telah ditentukan. Peserta juga mendapat pemahaman mengenai prosedur keselamatan karena NaOH dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan berbahaya apabila terhirup.
Sabun yang telah dicetak membutuhkan waktu sekitar 1x24 jam untuk memadat. Namun, sabun belum dapat langsung digunakan karena harus melalui proses selama kurang lebih tiga minggu untuk memastikan sisa alkali hilang.

Di sisi lain, peserta diperkenalkan dengan makebeliefscomix sebagai media untuk mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris sekaligus keterampilan digital. Mereka belajar membuat akun, mengenali fitur, menyusun komik dan menggunakan Bahasa Inggris dalam karya yang dibuat.
Rini menyebut hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Baca Juga : KKN Unisba Blitar Bawa AI ke Ruang Kelas, Bekali Guru SDN Kalipucung 02 Strategi Pembelajaran Digital
"Kalau melihat hasil pre test dan post test, pemahaman peserta mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Rata-rata nilai yang sebelumnya 31 persen meningkat menjadi 89 persen setelah mengikuti kegiatan," kata Rini.
Peningkatan tersebut mencakup pemahaman mengenai konsep green economy, pengolahan minyak jelantah menjadi sabun serta pembuatan komik berbahasa Inggris menggunakan makebeliefscomix.
Program pengabdian ini juga tidak berhenti pada pelatihan. Tim mendorong keberlanjutan kegiatan melalui sosialisasi green economy kepada komunitas lain, penyusunan panduan pembuatan sabun dan komik digital serta rencana pembentukan bank jelantah.
Sementara itu, Aiska selalu Ketua Karang Taruna mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, hal itu sangat bermanfaat bagi karang taruna.
“Terutama dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris sebagai bekal di dunia kerja dan mengolah minyak jelantah menjadi sabun,” ungkap Aiska.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun pendanaan 2026.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme dan ketertarikan untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh. Bagi tim pengabdian, respons tersebut menjadi modal penting agar program tidak berhenti sebagai pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan pengelolaan limbah yang berkelanjutan di lingkungan masyarakat.
