Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Dari CFD hingga Reverse Vending Machine, UB Dorong Gaya Hidup Hijau Mahasiswa

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Nurlayla Ratri

22 - May - 2026, 13:38

Placeholder
Peluncuran Car Free Day (CFD) di lingkungan Universitas Brawijaya (UB), Jumat, (22/5/2026) (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Peluncuran Car Free Day (CFD) di lingkungan Universitas Brawijaya (UB) pada Jumat (22/5/2026) menjadi penanda baru bagaimana kampus mulai mengubah isu lingkungan dari sekadar jargon akademik menjadi gerakan yang menyentuh perilaku sehari-hari mahasiswa. Di kawasan bundaran rektorat hingga depan gedung pusat administrasi kampus, kendaraan dibatasi sejak pagi hingga pukul 18.00 WIB. Namun perhatian utama bukan hanya pada jalanan yang lebih lengang, melainkan pada arah kebijakan hijau yang sedang dibangun UB.

Peluncuran itu juga dibarengi pemasangan delapan unit Reverse Vending Machine hasil kolaborasi dengan perusahaan kimia global LyondellBasell atau LYB. Mesin tersebut memungkinkan mahasiswa menukarkan botol plastik bekas menjadi poin digital yang dapat dikonversi menjadi saldo dompet elektronik.

1

Rektor UB, Prof Widodo menegaskan, CFD tidak dimaksudkan sebagai program seremonial mingguan semata. Menurutnya, langkah itu menjadi simbol bahwa isu keberlanjutan harus masuk ke budaya kampus dan kesadaran kolektif seluruh sivitas akademika.

Baca Juga : Komisi B DPRD Magetan Kawal Pemulihan Ekonomi Peternak Sapi Pasca Wabah PMK Menjelang Idul Adha

“Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang mendukung kegiatan Car Free Day. Kegiatan ini insyaallah akan kita lakukan setiap hari Jumat sebagai penanda, pengingat, dan komitmen kita semua bahwa kita memiliki tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan hidup,” ujar Widodo.

Ia mengatakan, kampus saat ini tidak cukup hanya berbicara tentang inovasi teknologi dan pengembangan ilmu pengetahuan tanpa memikirkan dampaknya terhadap lingkungan. Karena itu, UB mulai mendorong pengembangan teknologi, tata kelola, hingga manajemen yang lebih ramah lingkungan dan berorientasi pada circular economy atau ekonomi sirkular.

2

“Ini sebagai penanda, sebagai inisiasi gerakan kepedulian kita semua untuk terus melestarikan alam, melestarikan lingkungan hidup, dan mengembangkan tata kelola serta teknologi yang bersahabat dengan lingkungan,” katanya.

Widodo mengakui bahwa pelaksanaan CFD di area kampus memang belum memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan emisi karbon. Namun ia menilai langkah tersebut penting sebagai kampanye publik yang terus diulang agar membentuk kesadaran baru di lingkungan perguruan tinggi.

“Memang tidak banyak mereduksi emisi, tapi ini sebagai campaign. Program prioritas ini juga menjadi bagian dari kerja UPT Green Campus UB,” tegasnya.

Selain peluncuran CFD, perhatian pengunjung juga tertuju pada mesin Reverse Vending Machine yang ditempatkan di sejumlah titik strategis kampus. Mahasiswa cukup memasukkan botol plastik PET bekas minuman kemasan ke dalam mesin, lalu sistem akan mengonversinya menjadi poin digital.

3

Widodo menyebut mesin tersebut tidak hanya berbicara soal sampah, tetapi juga bagian dari pendidikan sosial dan lingkungan di kampus.

“Mesin ini sebagai upaya kita mengembangkan circular economy, melakukan pemilahan sampah, dan memberikan insentif bagi siapa saja khususnya mahasiswa untuk peduli terhadap lingkungan. Jadi ini bentuk proses pembelajaran juga,” ujarnya.

Ia bahkan mengingatkan bahwa teknologi masa depan tidak lagi hanya dinilai dari kecanggihannya, tetapi juga dari dampaknya terhadap lingkungan hidup.

“Teknologi ke depan harus eco-friendly. Karena teknologi yang tidak ramah lingkungan tidak akan pernah dipakai oleh masyarakat,” kata Widodo.

Dalam kegiatan tersebut, UB juga menerima donasi pohon-pohon langka dari warga Kota Malang. Dukungan itu dianggap menjadi sinyal bahwa isu lingkungan tidak bisa hanya dikerjakan kampus sendirian, tetapi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

Senior Manager LYB Asia Pacific sekaligus President Director LYB Indonesia, Rakhma Febriani, mengatakan kerja sama dengan UB menjadi bagian dari program keberlanjutan perusahaan bertajuk Advancing Good. Program itu berfokus pada isu lingkungan dan pengembangan budaya keberlanjutan di masyarakat.

Rakhma menjelaskan, persoalan sampah plastik selama ini sering berhenti pada tahap pemilahan, padahal tantangan sebenarnya berada pada bagaimana limbah itu diproses setelah digunakan.

“Kami sangat senang sekali bisa bekerja sama dengan UB Green Campus. Untuk program Our Planet, salah satunya melalui Reverse Vending Machine ini, kami ingin memberikan pembelajaran untuk mahasiswa terutama membangun culture atau budaya baru,” ujarnya.

Ia mengatakan, keberadaan mesin tersebut diharapkan dapat mengubah cara pandang mahasiswa terhadap sampah plastik yang selama ini dianggap tidak bernilai.

“Kalau kita sudah selesai mengonsumsi sesuatu, end of life-nya diapakan? Mau dibuang di tanah atau bagaimana? Masukkan ke sini saja,” kata Rakhma.

Baca Juga : Proyek Pembangunan PSEL Aglomerasi Malang Raya di Kabupaten Malang Terancam Batal

Menurutnya, insentif berupa saldo digital hanyalah pemantik awal agar mahasiswa tertarik menggunakan mesin tersebut. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran jangka panjang tentang masa depan lingkungan.

“Yang kita inginkan bukan hanya duitnya, tetapi bagaimana untuk masa depan bumi kita ini dalam jangka panjang,” ujarnya.

UB sendiri melihat persoalan sampah plastik sebagai isu serius yang tidak bisa lagi dipisahkan dari kehidupan kampus. Sekretaris UB,  Tri Wahyu Nugroho mengungkapkan, dengan jumlah mahasiswa mencapai sekitar 70 ribu orang, potensi sampah plastik harian di lingkungan kampus sangat besar.

“Kalau per hari menghasilkan satu sampah botol plastik saja, itu sudah 70 ribu botol plastik,” kata Tri Wahyu.

Karena itu, menurutnya, Reverse Vending Machine menjadi salah satu solusi konkret untuk menekan penumpukan sampah sekaligus mengubah perilaku mahasiswa.

“Mahasiswa nanti akan mengumpulkan botolnya, dimasukkan ke mesin ini. Setiap botol nanti ada poinnya yang bisa dikonversi menjadi rupiah dan masuk ke dompet digital mereka,” ujarnya.

Ia menegaskan, sampah plastik yang terkumpul tidak akan berakhir di tempat pembuangan akhir, melainkan diproses kembali menjadi produk bernilai guna melalui kerja sama dengan LYB dan mitra daur ulang.

“Jadi ini benar-benar menerapkan prinsip circular economy secara nyata di lingkungan kampus,” katanya.

Tri Wahyu menambahkan, program tersebut dibangun dengan konsep pentahelix yang melibatkan kampus, industri, masyarakat, hingga media. Selain dukungan dari LYB, kegiatan itu juga melibatkan komunitas pelestari pohon langka dan dukungan publik Kota Malang.

Delapan unit Reverse Vending Machine akan ditempatkan di sejumlah titik dengan mobilitas mahasiswa tinggi seperti kawasan rektorat, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi, kantin pusat, hingga asrama mahasiswa. Untuk tahap awal, mesin difokuskan menerima botol plastik PET karena jenis sampah itu paling banyak ditemukan di area kampus.

Kepala UPT Green Campus Suhartini mengatakan program CFD dan berbagai gerakan lingkungan yang diluncurkan kampus merupakan bagian dari upaya mewujudkan Kampus Lestari di lingkungan UB. Menurutnya, keberhasilan program tersebut tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan pimpinan kampus, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh warga UB hingga masyarakat Kota Malang.

“Harapannya kami bisa mengajak semua warga UB untuk berpartisipasi di program Car Free Day ini. Alhamdulillah pimpinan universitas juga sudah melakukan penandatanganan pakta integritas yang menunjukkan komitmen besar bahwa Brawijaya sangat berkomitmen menjadi kampus lestari,” ujar Suhartini.

Ia menambahkan, gerakan lingkungan di UB tidak hanya berhenti pada program bebas kendaraan dan pengelolaan sampah plastik, tetapi juga diperluas melalui program donasi pohon hingga adopsi pohon di kawasan UB Forest. Menurutnya, langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama akan memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan di masa depan.

“Jika tidak dimulai dari kita, siapa lagi yang akan memulai? Jika tidak dimulai saat ini, kapan lagi kita akan memulai? Yuk kita bersama-sama menciptakan perubahan mulai dari yang kecil terlebih dahulu,” katanya.


Topik

Pendidikan UB Universitas Brawijaya cfd car free day



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Gresik Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Nurlayla Ratri