Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Harga Telur Hancur, Puluhan Peternak di Magetan Demo Bagi-Bagi Telur Gratis ke Warga

Penulis : Basworowati Prasetyo Nugraheni - Editor : A Yahya

06 - May - 2026, 13:23

Placeholder
Geruduk jalanan, peternak di Magetan bagi-bagi 3 ton telur gratis. Aksi ini merupakan bentuk "jeritan" peternak atas hancurnya tata niaga telur nasional dan isu masuknya investor asing ke sektor perunggasan.

JATIMTIMES – Aksi pembagian 3 ton telur gratis oleh Asosiasi Peternak Telur Di Kabupaten Magetan hari ini diwarnai dengan pernyataan sikap yang keras terkait hancurnya tata niaga telur nasional. Para peternak mengungkap data lapangan yang menunjukkan bahwa mereka tidak hanya merugi, tetapi sedang menghadapi ancaman kepunahan akibat kebijakan investasi yang tidak berpihak pada rakyat kecil.

Ali, Salah satu peternak yang ikut dalam aksi tersebut, memaparkan rincian kerugian yang mereka alami. Saat ini, harga komponen pakan seperti konsentrat terus merangkak naik.

Baca Juga : Hearing di Komisi C DPRD Surabaya, Warga dan PT Wulandaya Cahaya Lestari Capai Kesepakatan

"Harga katul (dedak) saja sekarang sudah naik dari Rp4.000 menjadi Rp5.000 per kilogram. Sementara itu, harga telur kami jatuh di angka Rp22.000 per kilogram. Ironisnya, dengan harga serendah itu pun, telur kami sangat susah untuk keluar atau terjual ke pasar," keluhnya.

Para peternak menganalisis bahwa kondisi banjir telur saat ini merupakan dampak dari kebijakan hulu terkait penyebaran bibit ayam atau Day Old Chick (DOC).

"Jika kita tarik garis dari populasi DOC sekitar 6 hingga 7 bulan yang lalu, maka puncaknya adalah sekarang. Produksi sedang melimpah luar biasa. Pertanyaannya, apakah ada 'badan besar' yang sengaja mengatur ini semua? Karena jika populasi dibiarkan meledak seperti ini, peternak kecil dipastikan akan mati pelan-pelan," tambahnya.

Hal yang paling meresahkan bagi para peternak di Magetan adalah adanya info dari KADIN tentang masuknya investor asing, khususnya dari Cina, ke sektor perunggasan. Mereka menegaskan bahwa kabar masuknya perusahaan besar asal Cina bukan lagi sekadar isu, melainkan sudah mengantongi izin resmi.

Peternak merasa sangat terancam mengingat rekam jejak industri yang dikelola pihak asing tersebut karena industri apapun yang dipegang oleh Cina selalu menjadi unggulan dan melibas pemain lokal. Mereka mencontohkan bagaimana industri tekstil dan otomotif dalam negeri terdampak hebat ketika harus berhadapan dengan ekspansi masif dari Cina.

"Apalagi cuma sektor peternakan. Jika izin itu benar-benar ada dan mereka beroperasi, peternak kecil akan sangat, sangat menderita. Kami akan hancur jika harus beradu modal dengan industri raksasa tersebut," Lanjut Ali. 

Sementara itu Teguh Wahyudi, salah satu pengusaha telur yang iku terdampak, membeberkan realita pahit mengenai harga jual saat ini. Ia menyebutkan bahwa angka Rp 22.000 yang beredar di pasar sebenarnya sudah sangat rendah, namun kenyataan di kandang jauh lebih parah.

"Kenyataannya, pengiriman ke luar Magetan saja ada yang diterima hanya Rp 22.000. Bisa dibayangkan, kalau harga di pengiriman saja segitu, maka harga pengambilan di kandang pasti di bawahnya lagi. Ini real terjadi," ungkap Teguh dengan nada prihatin.

Baca Juga : Adu Gaya BLACKPINK di Met Gala 2026: Jennie, Rose, Lisa, dan Jisoo Tampil Ikonik di Red Carpet

Kondisi ini terpaksa dilakukan para peternak agar stok tidak menumpuk. "Kalau tidak dipaksa keluar dengan harga murah, telur Magetan akan terus menumpuk di kandang dan berisiko busuk," tambahnya.

Teguh memaparkan bahwa wilayah pemasaran tradisional Magetan kini mulai tergerus. Ia menyebut daerah seperti Klaten, Kudus, Grobogan (Purwodadi), hingga Baturitno (Wonogiri) kini sudah dimasuki telur dari wilayah lain dengan harga yang tak masuk akal.

"Pasaran kita ke Jawa Tengah semuanya kalah harga. Wonogiri itu sudah dimasuki telur 'Suru' (wilayah surplus) dengan harga cuma Rp 22.000. Sejujurnya, kondisi ini sangat memprihatinkan," jelasnya.

Senada dengan peternak lainnya,  Teguh mewakili rekan-rekan seperti Mas Ali dan Mas Eko dari wilayah Suru yang juga merasakan dampak serupa, meminta pemerintah tidak tinggal diam.

"Kami ini pelaku, kami juga peternak. Kami minta kepada pemerintah Kabupaten Magetan,khususnya dinas terkait, untuk segera turun tangan dan membantu. Indonesia ini sudah overload telur, jangan ditambah lagi dengan kebijakan yang makin menyengsarakan peternak rakyat," Pungkas Teguh.


Topik

Peristiwa Magetan demo peternak ayam telur demo bagi telur



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Gresik Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Basworowati Prasetyo Nugraheni

Editor

A Yahya

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa