JATIMTIMES - Belakangan ini, China menjadi sorotan dunia setelah memutuskan menutup sebagian wilayah udaranya selama 40 hari. Kebijakan ini memicu tanda tanya lantaran hingga kini belum ada penjelasan resmi dari Beijing.
Dilansir The Wall Street Journal, Kamis (9/4/2026), penutupan wilayah udara tersebut berlaku mulai 27 Maret hingga 6 Mei 2026. Langkah ini tergolong tidak biasa karena durasinya cukup panjang.
Baca Juga : Iran Tutup Lagi Selat Hormuz usai Serangan Israel ke Lebanon, AS Minta Segera Dibuka
Penutupan selama lebih dari satu bulan dinilai berpotensi memengaruhi pola penerbangan militer di kawasan, terutama di sekitar Laut China Timur dan wilayah lepas pantai dekat Shanghai.
Meski begitu, penerbangan sipil disebut masih dapat beroperasi. Namun, setiap pesawat yang melintas di area tersebut harus melalui koordinasi khusus.
Pemberitahuan resmi ini disampaikan melalui NOTAM (Notice to Air Missions), yakni sistem peringatan yang biasa digunakan untuk memberi tahu pilot dan otoritas penerbangan soal pembatasan atau potensi bahaya di wilayah udara tertentu.
Yang membuat situasi ini aneh adalah tidak adanya alasan resmi dari pemerintah China. Direktur proyek SeaLight di Stanford University, Ray Powell, menilai durasi penutupan yang sangat lama menjadi hal yang patut dicermati.
“Apa yang membuat ini sangat menonjol adalah kombinasi wilayah dari permukaan hingga ketinggian tak terbatas dengan durasi luar biasa selama 40 hari, dan tanpa pengumuman latihan militer,” ujarnya.
Ia melanjutkan, kondisi tersebut menunjukkan kemungkinan adanya kesiapan operasi militer jangka panjang. “Itu mengindikasikan bukan sekadar latihan sesaat, tetapi postur kesiapan operasional yang berkelanjutan, dan China tampaknya merasa tidak perlu menjelaskannya,” tambahnya.
Menurut Powell, jika kawasan tersebut nantinya dikonfirmasi terkait latihan militer, maka langkah ini bisa menjadi perubahan dalam cara Beijing menggunakan kontrol wilayah udara sebagai sinyal kekuatan militer.
Wilayah udara yang ditutup disebut mencakup area yang lebih luas dibanding Pulau Taiwan. Zona tersebut membentang dari Laut Kuning dekat Korea Selatan hingga Laut China Timur yang mengarah ke Jepang.
Baca Juga : IJTI dan Bupati Lamongan Sepakat Rancang Perbup Tentang Pers
Pengamat juga menilai area ini strategis karena berpotensi digunakan untuk simulasi manuver tempur udara dalam skenario konflik di sekitar Taiwan.
Direktur China Maritime Studies Institute dari US Naval War College, Christopher Sharman, mengatakan area itu dapat dipakai untuk latihan pertempuran udara. “Wilayah udara yang dicadangkan ini bisa menjadi kesempatan untuk melatih manuver tempur udara yang dibutuhkan dalam skenario seperti itu,” ujarnya.
Sementara itu, seorang pejabat keamanan senior Taiwan menilai langkah China ini juga berkaitan dengan situasi geopolitik global.
Menurutnya, Beijing memanfaatkan fokus Amerika Serikat yang sedang tertuju pada konflik Timur Tengah untuk meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Indo-Pasifik.
Pejabat tersebut menyebut pembatasan ini “jelas diarahkan ke Jepang” sebagai upaya menekan sekutu AS dan mengurangi pengaruh Washington di kawasan Indo-Pasifik.
