Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Dalam sejarah tercatat, wafatnya Khalifah Utsman bin Affan begitu menjadi pukulan yang luar biasa. 

Bukan hanya itu, kematian salah satu sahabat terbaik Rasulullah SAW itu pun telah memunculkan fitnah yang luar biasa.

Baca Juga : Sungguh Beruntung, Sahabat Ini Pernah Dapat Ungkapan Cinta dari Rasulullah SAW

Dr. Khalid Zeed Abdullah Basalamah, Lc., M.A. atau lebih dikenal sebagai Ustadz Khalid Basalamah dalam sebuah kajian menyampaikan, tidak disebutkan dalam buku sejarah siapa yang membunuh Utsman bin Affan.

Karena kaum khawarij yang terlibat dalam pembunuhan Utsman tersebut memasuki rumah Utsman secara ramai-ramai. 

Sehingga, semua orang yang masuk ke rumah Utsman tertuduh sebagai pembunuh Utsman. 

Para ahli sejarah pun tidak dengan jelas menyebut siapa pembunuh dari Utsman tersebut.

Setelah Utsman bin Affan terbunuh, maka Ali bin Abu Thalib terpilih sebagai khalifah. 

Karena masyarakat Makkah saat itu teringat dengan apa yang disampaikan Umar bin Khattab sebelum ia wafat bahwa nama Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib yang paling kuat.

Sehingga, ketika Utsman wafat lantaran terbunuh, maka masyarakat langsung memilih Ali sebagai khalifah.

Muaiwiyah bin Abu Sufyan yang merupakan sepupu dari Utsman bin Affan tak setuju dengan keputusan tersebut. 

Dia saat itu menjadi seorang gubernur di negeri Syam sejak masa pemerintahan Umar bin Khattab. Dia juga sebagai penulis wahyu Rasulullah SAW.

Muaiwiyah saat itu tak setuju dengan pengangkatan Ali. 

Saat itu Muaiwiyah menginginkan agar ditangkap dulu pembunuh Utsman, baru setelah itu bisa dipilih siapa yang akan diangkat sebagai khalifah menggantikan Utsman.

Tujuan Muaiwiyah saat itu adalah untuk menghapus fitnah dan kebiasaan menyerang serta membunuh seorang pemimpin.

Saat itu, Ali berpendapat beda. Dia mengatakan jika mencari pembunuh Utsman akan sulit jika tidak ada khalifah. Maka terjadilah perselisihan pendapat.

Dikisahkan, Muawiyah keluar dari negeri Syam dengan sekitar tiga ribu sampai empat ribu pasukan. 

Tujuannya adalah untuk berdiskusi dengan Ali di Madinah dan mencari cara agar diketahui siapa pembunuh Utsman.

Baca Juga : Setujui Usul JK, DMI Surabaya Ingin Salat Jumat Dua Gelombang

Kemudian kaum khawarij yang takut terbongkar atas keterlibatannya menyerang Utsman pun menciptakan fitnah.

Mereka yang mengetahui Utsman keluar dari negeri Syam dengan sekitar empat ribu pasukan menyampaikan kabar kepada Ali. 

Sehingga Ali mengira jika Muaiwiyah hendak melakukan pemberontakan.

Maka Ali saat itu juga keluar dengan ribuan pasukan untuk berjaga-jaga dan bukan untuk berperang. 

Kaum khawarij yang mengetahui itu menyampaikan kepada Muaiwiyah jika Ali keluar dari Madinah dengan membawa ribuan pasukan.

Kedua pasukan ketemu di Shiffin dan sama-sama mengira akan saling menyerang. Namun Muaiwiyah dan Ali merupakan sosok yang bijaksana. 

Keduanya pun saling berkirim surat dan bernegosiasi. Pada akhirnya Muaiwiyah dan Ali mengetahui jika keduanya keluar lantaran mendapatkan surat dari orang yang tak diketahui.

Orang khawarij yang mengetahui keduanya bernegosiasi itu pun tak terima. Orang khawarij membagi dua kelompok dan melempar anak panah dari perkemahan Ali menuju perkemahan Muaiwiyah dan sebaliknya.

Lalu terjadilah peperangan dan kemudian Muaiwiyah dan Ali meminta peperangan tersebut dihentikan. Maka ketahuan lah jika hal itu merupakan perbuatan kaum khawarij.

Kemudian Muawiyah dengan tegas mengakui jika Ali merupakan khalifah dan dia meminta agar Ali menjalankan tugasnya sebagaimana seorang khalifah.

Kaum khawarij yang masih tak menerima itu pun keluar sembari membawa Al-Quran dan kembali memanasi Ali untuk membunuh pasukan Muaiwiyah yang disebut khawarij sebagai pemberontak.

Maka Ali dengan tegas menolak itu dan mengatakan jika dirinya tak akan membunuh darah muslim. Maka Muaiwiyah disuruh pulang dan peperangan berkahir.

Namun kaum khawarij kembali membuat onar dengan membunuh banyak orang. Mereka keluar dari kelompok Ali dan langsung membunuh siapapun muslim. Khawarij menilai jika membunuh dan memberontak pemimpin adalah hal yang wajar.