Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Perang Uhud menjadi salah satu pertempuran besar antara umat Islam dan kaum Quraisy. 

Peristiwa yang terjadi selama peperangan yang melibatkan sekitar 700 muslimin dan menyerang tiga ribu pasukan Quraisy itu pun selalu menjadi pelajaran penting hingga hari ini.

Dikisahkan, dalam Perang Uhud itu terdapat beberapa mujahidin yang gugur dan mati syahid. 

Salah satunya adalah Abdullan bin Harram, ayah dari Jabir bin Abdullah. 

Pria yang sudah sangat tua renta yang memiliki jiwa kesatria luar biasa untuk membela Islam.

Meski sudah tak muda lagi, Abdullan bin Harram ini tetap meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk ikut perang dalam pertempuran Uhud. 

Keinginannya itu pun sempat ditolak oleh sang anak, Jabir bin Abdullah yang juga meminta tolong kepada Rasulullah SAW agar tak mengizinkan sang ayah turut berperang.

Mendapat permintaan dari Jabir, Rasulullah SAW pun memanggil Abdullah bin Harram. 

Kemudian pasangan bapak dan anak tersebut dipertemukan. 

Rasulullah SAW pun menyampaikan kekhawatiran dari Jabir agar sang ayah tak turun ke medan perang.

Namun dengan tegas, Abdullah memarahi anaknya dan berkata, "Kalau bukan karena surga, saya siap meninggalkan posisiku. Tapi ini adalah surga," kata Abdullah kepada anaknya.

Hingga akhirnya, Abdullah bin Harram pun berangkat menuju Uhud bersama pasukan perang lainnya. 

Di sana, ia menggunakan senjatanya untuk melawan musuh. 

Namun pada akhirnya dia pun menjadi mujahidin yang gugur.

Rasulullah SAW pun menyampaikan jika ayah Jabir tersebut menjadi mujahidin pertama yang meninggal dunia secara syahid. 

Bahkan, Abdullah bin Harram telah berkomunikasi secara langsung dengan Allah SWT.

Ketika itu, Jabir melihat sendiri jasad ayahnya yang tergeletak. 

Saat tengah bersedih dan menangis, Rasulullah SAW menghampiri Jabir dan berkata, "Wahai Jabir, menangis ataupun tidak menangis. Sesungguhnya bapakmu telah dinaungi oleh malaikat,".

"Wahai Jabir menangis ataupun tidak menangis, sesungguhnya Allah telah mengajak bicara bapakmu tanpa penerjemah," kata Rasulullah SAW.

Kisah percakapan antara Abdullah bin Harram itu dalam berbagai riwayat terjadi sesaat setelah Abdullah meninggal dunia. 

Ketika itu, Abdullah tersadar sesaat dan mendengar suara Allah berfirman, "Wahai hambaku, berangan-angan lah maka aku akan memberi,".

Ayah Jabir yang mati dan dihidupkan sementara menjawab, "Ya Rabb aku tak inginkan apapun kecuali hidupkan dua kali aku agar aku mati syahid dua kali,"

Lalu Allah menolak permintaan itu. Kemudian, Abdullah pun berkata, "Sampaikan pada anakku Jabir dan orang lain bagaimana posisiku,". 

Ketika itu, Abdullah telah mati syahid.

Abdullah bin Harram saat itu pada dasarnya tak sendiri. 

Ia memiliki seorang teman yang juga sudah renta yaitu Amr bin al-Jamuh. 

Keduanya merupakan sahabat yang selalu berjuang di jalan Allah SWT. 

Keduanya juga selalu melaksanakan ibadah bersama-sama, termasuk saat memutuskan untuk turut berjihad di jalan Allah SWT. 

Sama halnya dengan Abdullah, Amr bin Al-Jamuh juga sempat ditentang oleh anaknya agar tak mengikuti perang karena kondisinya yang sudah sangat renta dan juga memiliki kekurangan fisik. 

Dikisahkan, kaki dari Amr saat itu pincang lantaran sakit.

Amr pun menolak permintaan anaknya dan tetap berangkat berjuang bersama sahabatnya, Abdullah. 

Amr gugur setelah Abdullah mendahului. Kemudian, Rasulullah SAW memerintahkan agar jasad keduanya dikuburkan dalam satu liang lahat.