Dzurriyah Pendiri NU Minta Jangan Jadikan NU Kendaraan Politik: Politik Biar Diurus Parpol
Reporter
Tubagus Achmad
Editor
Yunan Helmy
26 - Jun - 2026, 04:31
JATIMTIMES - Dzurriyah atau keturunan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Bisri Syansuri, yakni Lathifah Shohib, meminta kepada semua pihak untuk tidak menjadikan NU sebagai kendaraan politik untuk memperoleh keuntungan pribadi maupun kelompok.
Hal itu disampaikan Lathifah usai gelaran Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri pada tanggal 20 sampai 22 Juni 2026 dan ditutup di Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan pada tanggal 23 Juni 2026 yang dihadiri langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
Baca Juga : Gerbong Mutasi Kembali Bergulir, Wali Kota Eri Rotasi 57 Pejabat Pemkot Surabaya
Lathifah pun meminta kepada seluruh pihak, utamanya para bakal calon ketua tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), untuk dapat mengembalikan tujuan NU sesuai sengan cita-cita para muassis atau pendiri NU.
"Kalau saya berharap, NU itu harus kembali ke cita-cita muassis NU. Ya harus dikembalikan ke sana dan jangan menjadi kendaraan politik. Jadi, untuk politik biar diurusi partai politik, NU urusan keagamaan dan keummatan," tegas Lathifah.
Perempuan yang saat ini duduk sebagai wakil bupati Malang ini menyampaikan, bahwa serangkaian proses Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU tahun 2026 telah terselenggara dengan sukses serta menghasilkan beberapa rekomendasi strategis. Mulai dari pengesahan peraturan perkumpulan terkait pengelolaan aset tambang, penentuan lokasi Muktamar NU ke-35 pada tanggal 1 sampai 5 Agustus 2026 mendatang, sorotan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga usulan perubahan mekanisme pemilihan ketua tanfidziyah atau ketua umum PBNU.
Menurut Lathifah, yang saat ini menjadi tugas panitia pelaksana Muktamar NU Ke-35 yakni terkait penetapan lokasi digelarnya muktamar. Pasalnya, pada saat Musyawarah Alim Ulama dan Konferensi Besar NU tahun 2026, pimpinan sidang telah mengumumkan Pondok Pesantren Lirboyo menjadi lokasi digelarnya Muktamar NU Ke-35.
"Tinggal sekarang yang menjadi PR-nya panitia adalah terkait penetapan lokasi muktamar. Yang sudah siap memang Pondok Pesantren Lirboyo. Tetapi kemarin sudah disepakati di Pondok Pesantren Lirboyo, tetapi Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menganulir. Sementara belum ditentukan tempatnya saja. Mudah-mudahan tidak bermasalah dengan tempatnya," jelas Lathifah.
Baca Juga : Pemkot Surabaya Ajukan Dukungan Kendaraan Listrik untuk Armada Layanan Publik
Untuk diketahui, terdapat beberapa nama alim ulama yang masuk dalam radar bursa bakal calon ketua umum PBNU dalam Muktamar NU Ke-35. Di antaranya KH Yahya Cholil Staquf, Prof KH Nasaruddin Umar, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, KH Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, KH Yusuf Chudlori, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, serta Gus Hery Haryanto Azumi.
Lathifah pun merespons banyaknya nama-nama para alim ulama yang diusulkan maju sebagai kandidat bakal calon ketua umum PBNU. Dari deretan nama tersebut, salah satunya adalah adik Lathifah, yakni KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam.
"Kalau tentang adik saya yang nyalon, ya karena dia adalah cucunya Mbah Bisri ya. Melihat kondisi NU yang menurut pandangan banyak orang seperti ini kan juga prihatin. Maka niatnya memang untuk mengembalikan NU ke rel seperti yang dicita-citakan oleh para muassis NU," pungkas Lathifah.
