Hati-hati! Hantavirus Sudah Terdeteksi di Indonesia, Kemenkes Catat 23 Kasus dan 3 Kematian

Reporter

Mutmainah J

Editor

A Yahya

08 - May - 2026, 07:37

Ilustrasi virus. (Foto dari Pixabay)

JATIMTIMES - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkap adanya puluhan kasus Hantavirus yang terdeteksi di Indonesia dalam tiga tahun terakhir. Penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan celurut ini bahkan telah menyebabkan korban meninggal dunia.

Berdasarkan data Kemenkes, tercatat sebanyak 23 kasus positif Hantavirus ditemukan di sembilan provinsi di Indonesia sejak 2024 hingga 2026. Dari jumlah tersebut, 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia.

Baca Juga : Ungkap 32 Kasus Narkoba, Polresta Malang Kota Amankan 1,6 Kg Sabu dan 8,9 Kg Ganja

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan seluruh kasus yang ditemukan di Indonesia merupakan jenis Seoul virus, bukan Andes virus yang sempat menjadi perhatian dunia karena dapat menular antarmanusia.

“23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal,” ujar Aji Muhawarman, Jumat (8/5/2026).

Ia menambahkan, risiko penyebaran Andes virus di Indonesia tergolong rendah karena penularannya umumnya terbatas terjadi di wilayah Amerika Selatan.

Sebaran Kasus Hantavirus di Indonesia

Kasus Hantavirus ditemukan di beberapa daerah berikut:

• DI Yogyakarta

• Jawa Barat

• DKI Jakarta

• Sulawesi Utara

• Nusa Tenggara Timur (NTT)

• Sumatera Barat

• Banten

• Jawa Timur

• Kalimantan Barat

Kasus terbanyak tercatat pada tahun 2025 dengan total 17 kasus. Sementara pada 2024 hanya ditemukan satu kasus, dan hingga Mei 2026 tercatat lima kasus tambahan.

Apa Itu Hantavirus?

Dilansir dari laman Halodoc, Hantavirus adalah penyakit langka yang menyerang manusia melalui paparan virus dari hewan pengerat. Gejala awalnya sering menyerupai flu biasa, tetapi dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi gangguan serius pada paru-paru dan jantung.

Penyakit ini juga dikenal sebagai hantavirus cardiopulmonary syndrome.

Virus biasanya menyebar melalui urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering lalu terhirup bersama debu di udara. Selain itu, penularan juga bisa terjadi akibat gigitan atau cakaran hewan pengerat yang terinfeksi.

Penyebab dan Cara Penularan Hantavirus

Berikut beberapa penyebab utama penularan Hantavirus:

1. Paparan Tikus dan Celurut

Hewan pengerat menjadi pembawa utama virus ini. Virus dapat hidup dalam urine, feses, maupun air liur tikus.

2. Menghirup Debu yang Terkontaminasi

Penularan paling umum terjadi saat seseorang menghirup debu yang tercemar kotoran tikus, terutama saat membersihkan gudang, loteng, bangunan lama, atau area tertutup lainnya.

3. Menyentuh Benda Terkontaminasi

Virus juga dapat masuk ke tubuh saat seseorang menyentuh benda yang terkena kotoran tikus lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut.

4. Gigitan Hewan Pengerat

Meski lebih jarang, penularan dapat terjadi akibat gigitan atau cakaran tikus yang terinfeksi.

Gejala Hantavirus yang Perlu Diwaspadai

Gejala biasanya muncul sekitar dua hingga tiga minggu setelah terpapar virus.

Pada tahap awal, gejalanya mirip flu biasa seperti:

• Demam dan menggigil

• Nyeri otot

• Sakit kepala

• Mual dan muntah

• Diare

• Sakit perut

Jika kondisi memburuk, pasien dapat mengalami:

• Batuk

• Sesak napas

• Tekanan darah rendah

• Gangguan detak jantung

• Penumpukan cairan di paru-paru

• Dalam kondisi berat, Hantavirus dapat menyebabkan kegagalan organ hingga kematian.

Siapa yang Berisiko Terinfeksi?

Risiko lebih tinggi dialami orang yang sering berada di area dengan banyak tikus atau kotorannya, seperti:

• Gudang dan bangunan kosong

• Area pertanian

• Tempat camping

• Loteng dan ruang bawah tanah

• Lokasi konstruksi

Aktivitas membersihkan bangunan lama tanpa alat pelindung juga meningkatkan risiko paparan virus.

Cara Pencegahan Hantavirus

Untuk mengurangi risiko penularan, masyarakat dianjurkan melakukan beberapa langkah berikut:

- Menutup lubang masuk tikus di rumah

- Menyimpan makanan dalam wadah tertutup

- Membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus

- Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan kotoran tikus

- Menyemprot area kotor dengan cairan disinfektan sebelum dibersihkan

- Rajin mencuci tangan setelah kontak dengan area berisiko

Kemenkes juga mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala mirip flu setelah terpapar lingkungan yang banyak tikus.