Sentuhan Bordir Khas Malang Jadi Identitas Koleksi Dasilva Batik

Reporter

Riski Wijaya

Editor

Yunan Helmy

23 - Mar - 2026, 05:56

Produk batik Dasilva.(Foto: Istimewa).

JATIMTIMES - Industri fesyen lokal terus berkembang dengan berbagai inovasi yang mengangkat identitas daerah. Salah satu yang mencoba menghadirkan ciri khas tersebut adalah brand Dasilva Batik melalui koleksi gamis bordir yang terinspirasi dari motif-motif khas Malang.

Owner Dasilva Batik, Dino, menjelaskan bahwa koleksi tersebut memang dirancang untuk menghadirkan karakter yang berbeda dibandingkan busana muslim pada umumnya. Sentuhan bordir menjadi elemen utama yang membedakan produk mereka, terutama karena motif yang digunakan mengambil inspirasi dari unsur alam khas Malang.

Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi

“Bordirannya memang dibuat khusus dengan ciri khas Malang. Ada motif bunga-bunga yang identik dengan Malang. Itu yang dimasukkan dalam bordiran,” kata Dino.

Selain gamis bordir, Dasilva Batik juga menghadirkan tas makram atau tas simpul sebagai pelengkap busana. Perpaduan antara busana dan aksesori tersebut diharapkan dapat memberi pilihan gaya yang lebih lengkap bagi konsumen, khususnya perempuan yang saat ini menjadi pasar dominan.

Dari sisi tren, Dino melihat gaya busana Muslim belakangan mulai bergeser. Jika sebelumnya gamis dengan efek kilap mencolok atau shimmer cukup populer, kini konsumen cenderung memilih tampilan yang lebih elegan dan lembut.

Menurut dia, bahan bernuansa silk menjadi salah satu tren yang sedang banyak diminati. Kesan mengilap tetap ada, tetapi tampil lebih halus dan tidak terlalu mencolok.

“Sekarang lebih ke bahan silk. Tetap ada nuansa kinclong, tapi tidak yang terlalu menyala seperti shimmer. Dari situ kita tambahkan bordiran supaya punya ciri khas,” ujarnya.

Pilihan warna yang dihadirkan juga mengikuti tren yang berkembang, terutama yang ramai di media sosial. Warna-warna netral seperti putih, krem, hingga hitam menjadi palet utama yang ditawarkan kepada konsumen.

“Kalau yang sekarang banyak disukai itu putih sama krem atau cokelat krem. Jadi kita mengikuti tren yang sedang berkembang, karena permintaannya juga banyak di warna itu,” ucap Dino.

Untuk harga, gamis bordir dari Dasilva Batik dibanderol mulai Rp350 ribu. Sementara tas makram sebagai pelengkap busana dijual mulai Rp250 ribu.

Dino mengatakan, koleksi tersebut sebenarnya mulai diperkenalkan secara luas ketika momentum Ramadan. Namun, menurutnya produk itu tidak terbatas hanya untuk kebutuhan musiman seperti Lebaran, melainkan dapat digunakan dalam berbagai kesempatan.

Baca Juga : Ingin Turunkan Berat Badan setelah Lebaran? Coba 5 Cara Ini agar Tubuh Kembali Ideal

“Momentum Ramadan memang sering jadi contoh untuk memperkenalkan koleksi busana muslim. Tapi sebenarnya produk seperti ini bisa dipakai kapan saja,” ungkapnya.

Sejak diperkenalkan, respons pasar terbilang cukup baik. Pesanan mulai berdatangan, bahkan ada pelanggan yang membeli dalam paket sekaligus, seperti gamis dan tas makram.

Hingga saat ini, jumlah pesanan sudah mencapai sekitar 50 potong dan diperkirakan terus bertambah. Dino menjelaskan bahwa biasanya permintaan akan meningkat menjelang momen-momen tertentu, termasuk hari besar keagamaan.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, koleksi tematik seperti ini mampu memberi kontribusi cukup besar terhadap penjualan. Pada musim Lebaran tahun lalu misalnya, Dasilva Batik berhasil menjual sekitar 180 potong baju koko dari koleksi khusus.

Secara keseluruhan, penjualan selama periode tersebut bahkan mencapai sekitar Rp187 juta, termasuk dari berbagai produk lain milik brand tersebut.

Dengan menghadirkan motif bordir yang mengangkat identitas lokal Malang, Dasilva Batik berharap produknya tidak hanya menjadi pilihan busana, tetapi juga ikut memperkenalkan kekayaan karakter daerah melalui karya fesyen lokal.