Trump Ancam Iran: 48 Jam Buka Selat Hormuz atau Siap-Siap Listrik Diputus!

Reporter

Binti Nikmatur

22 - Mar - 2026, 12:35

Presiden AS Donald Trump. (Foto: X)

JATIMTIMES - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Presiden AS Donald Trump melontarkan ultimatum soal penutupan Selat Hormuz yang menjadi urat nadi distribusi energi global.

Trump memberi tenggat waktu 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Jika tidak, ancaman serius siap dilancarkan.

Baca Juga : Penerima Manfaat Tak Bisa Perbaiki Kerusakan, Picu Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo Mangkrak

Dilansir AFP, Minggu (22/3/2026), Trump memperingatkan Iran agar segera membuka Selat Hormuz tanpa syarat. Pernyataan itu disampaikan langsung melalui platform media sosial miliknya, Truth Social.

"Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz, dalam waktu 48 JAM dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, DIMULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU!" tulis Trump.

Ultimatum Trump terhadap Iran. (Foto: X)

Ultimatum Trump terhadap Iran. (Foto: X)

Ancaman tersebut langsung memicu kekhawatiran global, mengingat dampaknya yang bisa meluas ke sektor energi dan ekonomi dunia.

Sejak konflik pecah antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu, Iran diketahui menutup Selat Hormuz sebagai bentuk balasan.

Padahal, jalur laut ini sangat vital.
Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya.

Penutupan ini membuat banyak negara yang bergantung pada jalur tersebut harus mencari alternatif distribusi energi, bahkan mengandalkan cadangan yang ada.

Dampak penutupan Selat Hormuz mulai terasa di berbagai negara. Pasokan energi dari kawasan Teluk terganggu, sehingga harga bahan bakar melonjak tajam.

Baca Juga : Alternatif PSEL, Pemkot Malang Rancang Skema RDF untuk Pengolahan Sampah

Kondisi ini berpotensi memicu inflasi global, terutama jika konflik berkepanjangan dan jalur distribusi utama tetap tertutup.

Sementara itu, militer Amerika Serikat sebelumnya mengklaim telah melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Iran.

Pada Sabtu (21/3), militer AS menyebut telah merusak bunker yang digunakan untuk menyimpan senjata yang dianggap mengancam jalur pengiriman minyak dan gas di Selat Hormuz.

Langkah ini disebut sebagai upaya untuk mengurangi ancaman terhadap jalur energi global sekaligus menenangkan kekhawatiran pasar.

Lebih dari 20 negara dilaporkan turut menyuarakan dukungan terhadap upaya pembukaan kembali Selat Hormuz.

Negara-negara tersebut khawatir jika jalur vital ini terus ditutup, dampaknya tidak hanya dirasakan kawasan Timur Tengah, tetapi juga ekonomi global secara keseluruhan.