Heboh iPusnas Error Berkepanjangan, Warganet Curiga Dampak Efisiensi Anggaran
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Yunan Helmy
28 - Feb - 2026, 10:50
JATIMTIMES - Aplikasi iPusnas tengah jadi sorotan. Platform perpustakaan digital milik Perpustakaan Nasional Republik Indonesia itu dikeluhkan error berkepanjangan selama beberapa bulan terakhir. Di media sosial, muncul dugaan gangguan ini berkaitan dengan efisiensi anggaran.
Salah satu sorotan datang dari Seno GP melalui akun X pribadinya @senogp. Ia mencurigai gangguan iPusnas berkaitan dengan kebijakan efisiensi yang diterapkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga : Rekomendasi Anti-DDoS untuk E-Commerce
“Aplikasi ipusnas ini error curiga efek dari efisiensi yg diterapkan Prabowo dan dialihkan ke proyek utamanya dia. Ruang Baca Kominfo juga tinggal nunggu waktu aja itu,” tulisnya.
Penerbit Bentang Pustaka juga menyampaikan kekhawatiran serupa. “Anggaran Perpusnas Dipangkas Ugal-Ugalan. iPusnas Ikut Tumbang? Beginilah jadinya ketika literasi bukan lagi prioritas negara," tulisnya.
Menurut unggahan Penerbit Bintang Pustaka di akun Instagram resminya, dalam sebulan terakhir, iPusnas mengalami gangguan layanan. Sejak 4 Januari 2026, pengelola menyatakan iPusnas tengah menjalani pemeliharaan sistem dengan target selesai 8 Januari. Namun hingga kini layanan belum sepenuhnya kembali normal.

Keluhan lain errornya iPusnas. (Foto: X)
Sejak dirilis, iPusnas memang beberapa kali mengalami gangguan. Namun kali ini disebut sebagai yang paling lama.
Bagi banyak pengguna, iPusnas merupakan “suaka” literasi di tengah mahalnya harga buku cetak. Platform ini menyediakan akses gratis ke ribuan buku elektronik secara legal.
Tak heran, gangguan yang berlarut-larut memicu spekulasi. Banyak warganet menduga masalah ini tak lepas dari pemangkasan anggaran Perpusnas.
Masih dalam unggahan yang sama, Perpusnas termasuk instansi non-kementerian yang terdampak efisiensi anggaran untuk mendukung⁴ program prioritas pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan data 2025, anggaran Perpusnas dipotong sekitar 38,78 persen atau hampir Rp 280 miliar. Anggaran tahun ini bahkan lebih rendah dibanding masa pandemi COVID-19.
Efisiensi ini berdampak luas. Pengadaan koleksi dihentikan sementara, sejumlah program terancam berhenti, hingga sebagian pegawai ditugaskan Work From Anywhere untuk menekan biaya operasional.
Tak hanya itu, ribuan naskah kuno juga menghadapi risiko kerusakan akibat keterbatasan dana konservasi dan digitalisasi.
Lantas muncul anggapan, bukan tidak mungkin gangguan iPusnas yang berkepanjangan menjadi salah satu efek dari kebijakan efisiensi tersebut.
Baca Juga : Riset: Kritik Pendidikan dan Kurikulum Meningkat di Medsos, Sentimen Negatif Tembus 68%
"Dan jika dugaan ini benar, maka inilah konsekuensi paling berbahaya dari cara negara memandang literasi," demikian ungkap Bintang Pustaka.
Penerbit Bintang Pustaka menilai literasi adalah fondasi. "Dia tidak bisa diperlakukan sebagai pos yang fleksibel untuk dikurangi setiap kali ada prioritas baru. Karena tanpa literasi yang kuat, masyarakat akan kehilangan alat untuk memahami, mengawasi, dan mengkritisi kebijakan yang dibuat atas nama mereka, sebesar apa pun program dan kebijakannya," ungkapnya.
"Pada akhirnya, ketika akses terhadap buku dan pengetahuan dipersempit, yang kita hemat justru adalah masa depan kita sendiri. Menurutmu, apakah masalah efisiensi anggaran Perpusnas ini juga akan berpengaruh pada minat baca masyarakat indonesia?," tutup penerbit Bintang Pustaka.
Menanggapi keluhan publik, Perpusnas melalui Instagram @perpusnas.go.id pada 23 Februari 2026 memberikan klarifikasi.
Pihaknya menyatakan iPusnas sedang menjalani proses pengujian keamanan sistem bersama pihak eksternal. Beberapa tahapan dilakukan, termasuk perbaikan aplikasi yang menyebabkan error. Proses pengujian masih berlangsung dan akan diumumkan kembali setelah seluruh tahapan selesai.
Kepala Pusat Data dan Informasi Perpusnas, Wiratna Tritawirasta, menjelaskan penguatan sistem dilakukan karena peningkatan jumlah pengguna dan kebutuhan layanan digital yang makin besar.
“Penguatan sistem dilakukan melalui pembaruan arsitektur, migrasi data, dan pengujian keamanan agar layanan semakin optimal,” ujar Wiratna dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (28/2/2026).
Meski terdampak efisiensi anggaran, Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, Perpusnas mengklaim tetap berupaya menjalankan delapan program prioritas 2026.
Program tersebut meliputi Alih Wahana Naskah Kuno Nusantara, Alih Media Bahan Perpustakaan, Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), KKN Tematik Literasi, Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA), hingga Pelatihan Kepustakawanan.
