Abu Musa al-Asy’ari dan Jejak Awal Tradisi Salam dalam Islam

Editor

Dede Nana

14 - Feb - 2026, 09:31

Ilustrasi awal mula tradisi salaman dalam Islam (ist)

JATIMTIMES - Kedatangan rombongan dari Yaman ke Madinah bukan sekadar perpindahan geografis. Ia menjadi momen penting dalam sejarah peradaban Islam. Peristiwa itu diabadikan dalam riwayat sahabat Anas bin Malik. Ketika penduduk Yaman tiba, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, dan merekalah orang yang pertama kali melakukan jabatan tangan.”

Di antara rombongan itu hadir sosok yang kelak dikenal luas karena kelembutan hati dan kemerduan suaranya, yakni Abu Musa al-Asy'ari, bernama asli Abdullah bin Qays. Ia berasal dari wilayah selatan Jazirah Arab, Yaman, daerah yang dalam sejumlah riwayat dipuji Rasulullah karena kelembutan karakter penduduknya.

Baca Juga : Di Balik Cokelat dan Mawar, Ini Sejarah Tragis Hari Valentine yang Jarang Diketahui

Dalam hadis lain yang diriwayatkan at-Tirmidzi, Rasulullah memuji kualitas bacaan Alquran Abu Musa. “Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah dikaruniai suatu suara yang indah dari keluarga Daud.” Pujian itu bukan basa-basi. Ia menegaskan kemampuan Abu Musa melantunkan ayat suci dengan suara yang menggugah hati, hingga para sahabat kerap terdiam ketika mendengarnya membaca.

Perjalanan hidupnya merefleksikan komitmen total terhadap dakwah. Begitu mendengar kabar diutusnya seorang nabi di Makkah, Abu Musa meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kebenaran. Setelah menetap beberapa waktu di kota kelahiran Rasulullah, ia kembali ke Yaman dan mengajak kaumnya memeluk Islam. Dakwahnya membuahkan hasil. Sejumlah orang dari kabilahnya menerima ajaran tauhid melalui perantaranya.

Gelombang berikutnya membawanya ke Habasyah atau Etiopia. Saat mendengar kabar kaum Muslimin Makkah berhijrah ke negeri itu, Abu Musa ikut serta bersama sekitar 50 orang, termasuk dua saudaranya, Abu Burdah dan Abu Ruhm. Mereka menyeberangi Laut Merah dan bertemu rombongan yang dipimpin Ja’far bin Abu Thalib. Di sana mereka menetap hingga fase hijrah ke Madinah dimulai.

Ketika kabar hijrahnya Rasulullah ke Madinah sampai ke telinga mereka, Abu Musa dan rombongannya segera menyusul. Rasulullah sebelumnya telah memberi isyarat tentang kedatangan mereka. “Besok akan datang kepada kalian kaum yang hatinya lebih lembut dari kalian dalam menerima Islam.”

Keesokan harinya, rombongan Yaman itu benar-benar tiba. Mereka bersalaman dengan penduduk Madinah yang menyambutnya. Dari peristiwa itulah, tradisi berjabat tangan saat berjumpa dengan sesama Muslim mulai dikenal luas di tengah masyarakat Islam. Sebuah praktik sederhana yang sarat makna persaudaraan.

Baca Juga : Ziarah Kubur Jelang Puasa Ramadhan, Bolehkah? Ini Penjelasan Hukumnya dalam Islam

Pada masa itu, tradisi serupa tidak dikenal di kalangan Romawi. Bangsa Persia bahkan memiliki kebiasaan bersujud kepada tokoh yang dihormati. Islam menghadirkan bentuk penghormatan yang egaliter. Tidak ada sujud kepada manusia, tidak ada jarak kasta. Cukup dengan salam dan jabat tangan, simbol kesetaraan dan ukhuwah.

Kedekatan Abu Musa dengan Rasulullah terlihat pula dari doa khusus yang dipanjatkan untuknya. Dalam sebuah munajat, Nabi berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosa Abdullah bin Qays dan masukkanlah ia pada hari berhenti di tempat yang terpuji.”

Doa itu menjadi penegasan posisi Abu Musa bukan hanya sebagai sahabat, tetapi sebagai figur yang mendapat perhatian dan kasih sayang langsung dari Rasulullah.