Pameran Setengah Rindu: Sentuhan Personal Dari Memori Kulit Kacang hingga Kritik Gawai di Galeri Raos Batu
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Dede Nana
13 - Feb - 2026, 01:20
JATIMTIMES – Kelompok seni Simpullapan mencoba kembali menggebrak kancah rupa dengan pameran kolektif bertajuk "Setengah Rindu: Yang Belum Selesai, Yang Tetap Bekerja". Digelar hingga 17 Februari mendatang di Galeri Raos Kota Batu, pameran ini hadir sebagai antitesis dari budaya serba instan, mengajak penonton untuk menyelami kembali jarak dan kegelisahan yang menjelma menjadi karya seni.
Dwi Christanto, salah satu seniman yang terlibat, menjelaskan bahwa diksi "Rindu" yang diusung bukan merujuk pada romansa picisan. Baginya dan tujuh rekan lainnya, rindu adalah sebuah mesin penggerak kreatif yang sangat personal dan beragam bentuknya.
Baca Juga : 22 Dapur SPPG di Kota Batu Masih Antre Sertifikasi SLHS
"Rindu di sini bukan tentang hal yang romantis-romantis. Kami mengangkat rindu yang lebih dalam. Ada yang rindu pada sosok Ibu yang telah tiada, ada yang rindu budaya lokal yang mulai terlupakan oleh generasi sekarang, hingga rindu pada masa kecil sebelum gawai mendominasi segalanya," ungkapnya saat ditemui di galeri.

Pameran ini menjadi panggung bagi delapan perspektif unik. Yakni kolaborasi dari seniman senior dan seniman muda. Dwi Christanto sendiri menampilkan karya yang terinspirasi dari kejenuhan rutinitas kerja dan fenomena street art yang ia temui di jalanan. Dalam karyanya, ia menghadirkan tokoh-tokoh ikonik seperti Tan Malaka, Putri Diana, hingga Frida Kahlo dengan latar belakang coretan yang menggambarkan hiruk pikuk pikiran.
"Setiap hari bolak-balik kerja, saya melihat banyak street art di jalanan. Coretan-coretan itu merepresentasikan kejenuhan otak saya. Akhirnya saya bawa suasana jalanan itu ke galeri, dipadukan dengan tokoh-tokoh yang menurut saya punya karakter kuat dan inspiratif," tambah pria yang disapa Crist itu.

Selain Crist, keberagaman makna rindu juga terpancar dari seniman lainnya. Misalnya Jumali Kerto menghadirkan kerinduan pada dunia bermain fisik masa kecil sebagai kritik terhadap dominasi gadget, Nadia Vina Maharani memotret kerinduan pada budaya Jawa dan Malangan yang mulai tergerus zaman.
Ada pula Ahmad Saihu bahkan membawa memori yang sangat personal melalui simbol kulit kacang—sebuah penghormatan sunyi bagi mendiang ayahnya yang kerap meninggalkan kulit kacang di meja saat ia pulang kuliah. Selain itu, Faal Jagra mencoba melawan arus AI (Artificial Intelligence) dengan menekankan pentingnya proses manual dan fokus manusia yang kini sering terpecah.
Secara kuratorial, sambung Crist, pameran ini memposisikan seni sebagai pengalaman yang mengubah cara pandang. Di saat dunia menuntut segalanya bergerak cepat, Simpullapan justru memilih jalan sunyi untuk "melambat".
Baca Juga : Ribuan Personel Gabungan Pungut Sampah Massal di Pasar Induk Among Tani Batu
Melalui sekitar 40 karya yang dipajang, pengunjung diajak untuk tidak sekadar melihat, tetapi merasakan kembali hal-hal yang pernah berarti namun belum sempat terselesaikan.
