Ke Ranu Kombolo Susah Bawa Barang ? Ini Tarif Porter Yang Siap Membantu Anda
Reporter
Pawitra Huda Pradana
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
30 - Oct - 2018, 02:35
Upacara Peringatan Sumpah Pemuda di Ranu Kumbolo, Minggu (28/10/2018) menjadi berkah tersendiri bagi berapa porter Semeru. Jasa pembawa barang menjadi solusi yang praktis bagi para pendaki Semeru yang tak ingin kerepotan dengan perbekalan maupun perlengkapan camping.
"Kalau ke Ranu Kumbolo baru kali ini, seringnya ke Ranu Pane," ungkap suami istri pengajar Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug yang jauh-jauh datang dari Tangerang khusus untuk ikut upacara Sumpah Pemuda di Ranu Kumbolo.
Keduanya juga mengaku tertolong dengan jasa porter Semeru, untuk membawa barang bawaan mereka ke Ranu Kumbolo. Dengan tarif drop barang ke Ranu Kumbolo Rp. 200.000, atau Rp. 400.000 PP. Setiap porter mampu membawa setidaknya perlengkapan 2-3 pendaki dengan pikulan.
"Semua porter dan guide lokal di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini sudah ada paguyubannya mas, jadi untuk tarif ya sudah seragam," papar Purwono, salah satu porter Semeru asal Desa Ranupani
Kami mencoba menggali informasi yang tersebar di internet, dan menemukan informasi bahwa memang benar seluruh porter dan guide yang tergabung dalam Paguyuban Pemandu dan Porter Semeru Mandiri (PPSM) sudah punya standar harga. Ini artinya pengunjung Ranu Kumbolo - Semeru tak perlu kuatir harga tarif porter yang dibayar berubah-ubah.
"Jasa porter pun di kawasan Gunung Semeru saat ini sangatlah banyak karena semakin hari, jumlah wisatawan baik dari dalam ataupun luar negeri mulai meramaikan kawasan ini," tambah porter berusia 23 tahun ini.
Purwono menceritakan suka duka menjadi porter Semeru. Baginya jadi satu kebanggan jika bisa menjadi porter wisatawan asing. Purwono dan puluhan porter tak hanya dituntut secara fisik untuk membawa puluhan kilo perbekalan, tapi setidaknya harus mampu membawa suasana wisatawan agar tak kapok datang lagi.
"Biasanya wisatawan sudah punya kesan yang disampaikan ke paguyuban, kalau ada protes tentang jasa porter, paguyuban akan langsung menegur kami, jadi kami bisa terus berbenah," tambahnya.
"Pernah saya membawa turis dari Singapura, saat menginap di Ranu Kumbolo saya masakkan bubur Jawa, mereka sangat menikmati dan pulangnya saya dan beberapa porter dikasih kenang-kenangan, yakni perlengkapan camping," lanjutnya.
Diakui Purwono, baginya meskipun bukan sebagai guide, porter juga harus mengerti soal pelayanan klien. Purwono dan beberapa porter bahkan mengaku mengerti bahasa Inggris meskipun belum lancar.
"Ya sedikit-sedikit bisa mas bahasa Inggris, meskipun gak lancar. Pendaki dari Singapura dan Malaysia biasanya tak pelit ngasih tips atau kenang-kenangan, meskipun ada juga sih yang cerewet," ungkap Purwono.
Purwono juga mengakui beberapa porter yang tergabung di paguyuban juga dibekali dengan pengetahuan dasar pertolongan pertama kecelakaan (P3K). Terkadang porter-porter ini juga bisa diminta memijat punggung/kaki pendaki, tentu ini menjadi tambahan rejeki dari tips yang mereka terima dari permintaan ini.
